Penafsiran Kejadian 1 merupakan salah satu bagian penting dari Alkitab, karena penciptaan alam semesta serta isinya merupakan dasar dari seluruh narasi penebusan dalam Alkitab. Sebelum membahas tentang dosa, keselamatan, bangsa Israel, gereja maupun datangnya Kristus, Alkitab terlebih dahulu menyebutkan Allah sebagai pencipta semuanya.
Dengan demikian, pendapat kita tentang Kejadian pasal 1 tentunya akan menentukan bagaimana pandangan kita tentang Allah, manusia, alam semesta, serta tentang makna kehidupan.
Matthew Henry mempercayai bahwa kisah penciptaan yang menjadi pembuka Alkitab ini merupakan tindakan yang benar. Karena, sebelum manusia mengetahui Allah sebagai penebusnya, mereka perlu lebih dulu mengetahui Allah sebagai penciptanya.
Dunia ini tidak diciptakan secara kebetulan atau pun dengan begitu saja, tapi merupakan hasil kerja dan kekuatan dari Allah. Kejadian pasal satu ini bukan hanya sekedar penjelasan sejarah tentang asal-usul dunia saja, tetapi juga menunjukkan sifat-sifat Allah yang kuat, bijaksana, terorganisasi, dan baik.
Dalam setiap proses penciptaan, kita dapat memandang bahwa Allah selalu bertindak dengan tujuan pasti dan tiada bagian dari penciptaan-Nya yang tidak memiliki makna.
Penafsiran Kejadian Pasal 1
Alkitab dibuka dengan kalimat yang sangat sederhana namun penuh dengan makna:
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” (Kejadian 1:1-2).
Ini adalah teks yang menjadi dasar bagi iman Kristen. Menurut Matthew Henry, pada pasal pertama Alkitab, Tuhan diperkenalkan sebagai individu yang ada bahkan sebelum munculnya alam semesta. Tuhan tidak diciptakan atau tidak memiliki awal. Dia justru merupakan asal dari semua pengetahuan tersebut.
Frasa “langit dan bumi” mencakup alam semesta dan segala isinya. Ini berarti bahwa semua entitas materi dan abstrak itu hasil buatan Tuhan. Semua bagian dari alam tersebut masih berada di bawah kuasa dan kontrol-Nya.
Pasal 2, Alkitab menggambarkan bumi yang masih “belum berbentuk dan kosong”. Ini artinya bahwa Tuhan sedang menyiapkan tempat bagi kehidupan yang ada di dunia. Gagasan kegelapan menutupi perairan, namun Roh Tuhan melingkar di atas permukaannya.
Makna ini menunjukkan kepada kita bahwa meski alam semesta belum dibuat dengan cara yang baik dan teratur, Tuhan tetap mengendalikan semuanya. Belum adanya ketertiban itu bukan berarti Tuhan tidak bisa mengendalikannya. Roh Tuhan telah siap untuk mendatangkan ketertiban, kehidupan, dan keindahan.
Ini juga berlaku pada kehidupan umat Kristen. Tuhan mampu menciptakan ketertiban dari kekacauan, damai dari kegembiraan, dan harapan dari ketidakpastian. Semakin kita membaca dan belajar Alkitab, maka seharusnya kita semakin kagun, hormat dan juga takut akan Dia.
Penafsiran Kejadian 1: Hari Pertama Allah Menciptakan Terang
Pekerjaan penciptaan dimulai dengan firman Allah: “Jadilah terang.” Dan terang itu pun jadi (Kejadian 1:3-5).
Pada bagian ini, Henry memberikan penekanan tentang besarnya kuasa dari Firman Tuhan. Tidak perlu alat, material, atau proses pembuatannya yang rumit. Cukup Tuhan berfirman dan apa yang diperintahkan Tuhan langsung terjadi. Ini membuktikan kemahakuasaan Tuhan atas semua ciptaan-Nya.
Hari pertama yang diciptakan adalah terang. Hal yang menarik, terang diciptakan sebelum matahari, bulan, dan bintang. Ini berarti bahwa terang bukan hasil ciptaan langit-langit tersebut tetapi dari Tuhan sendiri.
Usai menciptakan terang, Tuhan memisahkannya dari kegelapan. Ini membuktikan bahwa Tuhan adalah pencipta dan pengatur yang baik dalam menjaga ciptaannya agar tidak acak-acakan.
Dalam konteks spiritualitas, terang sering dikaitkan dengan kebenaran, kesucian, dan kehidupan. Sementara itu, kegelapan identik dengan dosa dan kejahatan. Untuk itu, penciptaan terang menjadi pengingat bahwa TUHAN adalah sumber kehidupan dan terang bagi manusia itu sendiri.
Penafsiran Kejadian 1: Hari Kedua Allah Menciptakan Cakrawala
Pada hari kedua, Allah membuat batas-batas antara air yang ada di bawah dan air yang ada di atas. Batasan tersebut dinamakan langit (Kejadian 1:6-8)
Seperti yang ditulis oleh Matthew Henry, batasan ini menunjukkan penataan Allah terhadap alam semesta. Penataan tersebut menciptakan atmosfer yang menjadikan kehidupan menjadi mungkin. Semua sesuatu diletakkan di tempatnya sesuai dengan kehendak-Nya.
Pemandangan langit yang dapat kita nikmati setiap hari adalah bukti bahwa Allah ada dan kekuasaan-Nya melampaui pengetahuan manusia. Meskipun manusia mungkin telah mendapatkan berbagai hukum yang ada di alam, itu semua adalah hukum yang ditetapkan oleh Allah sejak penciptaannya.
Apabila mencermati penciptaan hari kedua, maka kita menyadari bahwa dunia ini tidak bekerja secara kebetulan. Alam semesta memiliki ketertiban karena berada di dalam kendali dan kuasa Allah sendiri.
Hari Ketiga: Daratan dan Tumbuh-tumbuhan
Dalam hari ketiga, Allah membuat air bersatu sedemikian rupa sehingga daratan dapat tampak jelas. Air dan daratan diberi batas-batas sesuai kehendak Allah (Kejadian 1:9-13)
Dalam tahap selanjutnya, Allah memerintahkan bumi untuk menghasilkan berbagai macam tumbuhan, rumput-rumput, dan pohon berbuah, masing-masing berdasarkan jenisnya.
Menurut Matthew Henry, Allah pertama kali membuat rumah dan makanan bagi makhluk ciptaannya. Hal ini memperlihatkan pemeliharaan Allah yang berkenan. Allah selalu mempersiapkan kebutuhan ciptaannya bahkan sebelum kebutuhan tersebut muncul.
Beraneka ragamnya tumbuhan merupakan bukti dari kekreatifan Allah yang sangat tinggi. Masing-masing tumbuhan memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda. Semuanya itu adalah refleksi dari hikmat Allah sebagai Sang Pencipta.
Bahkan, frasa “menurut jenisnya” mengindikasikan keadaan adanya urutan dalam penciptaannya. Allah telah menciptakan dunia ini dengan aturan-aturan tertentu sehingga segala jenis tumbuhan dapat tumbuh dan berkembang secara teratur.
Hari Keempat: Matahari, Bulan, dan Bintang
Pada hari keempat Allah menciptakan cahaya yang mengambang di cakrawala langit. Pagi ini adalah matahari yang akan menguasai siang hari, malam ini adalah bulan yang akan menguasai malam, dan yang lainnya adalah bintang-bintang (Kejadian 1:14-19).
Menurut Matthew Henry, fokus utama dari ciptaan langit ini bukan untuk disembah, melainkan untuk memberikan tujuan kepada pencipta-Nya. Mereka adalah alat untuk menghitung waktu, musim, hari, dan juga tahun.
Ini adalah hal yang sangat penting bagi kita, karena pada zaman dahulu banyak orang-orang yang menyembah kepada matahari, bulan, dan bintang dan menjadikannya sebagai dewa. Namun dalam Alkitab telah disebutkan bahwa semua itu hanyalah ciptaan Allah.
Ketika melihat keindahan malam langit yang dihiasi oleh banyaknya bintang, maka kita dapat menyaksikan kebesaran dan kemuliaan Pencipta kita. Jadi setiap kali kita melihat langit, kita seharusnya menghormati Allah dan bukan sujud menyembah ciptaan-Nya.
Hari keempat juga menggambarkan bahwa Allah menjaga alam semesta dengan cara yang sangat teratur. Peralihan antara siang dan malam, pergantian musim, dan gerakan objek-objek langit semua berlangsung sesuai dengan hukum-Nya.
Hari Kelima: Burung dan Ikan
Selama hari kelima, Tuhan menciptakan makhluk hidup di lautan dan di udara. Ikan beraneka ragam tumbuh di dalam air, sedangkan burung berbagai macam terbang di angkasa (Kejadian 1:20-23).
Berdasarkan pandangan dari Matthew Henry, keanekaragaman makhluk hidup tersebut merupakan bukti akan kekayaan hikmat Allah. Dua spesies tidak pernah identik. Mereka masing-masing mempunyai ciri-ciri, peranan serta tempat tinggal yang sudah diberikan oleh Sang Pencipta.
Selain itu, Tuhan memberkati mereka dengan mampu berkembang biak dan memenuhi bumi. Berkat Tuhan tersebut menjadi pertanda bahwa hidup berkelanjutan seiring dengan pemeliharaan-Nya.
Hari Keenam: Binatang Darat dan Puncak Penciptaan Manusia (Kejadian 1:24-31)
Hari keenam merupakan puncak dari seluruh karya penciptaan
Ternyata awal penciptaan dilakukan oleh Tuhan dengan menciptakan aneka jenis hewan darat, ternak, melata, dan binatang liar. Penciptaan ini pun dilakukan sesuai jenisnya masing-masing. Namun, titik puncak penciptaan adalah ketika Tuhan menciptakan manusia.
Perlu diketahui bahwa tidak seperti ciptaan sebelumnya yang hanya berawal dari perintah, penciptaan manusia dilakukan dengan menggunakan pernyataan khusus: “Inilah kelanjutan yang kita lakukan. Kita akan menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.”
Matthew Henry mengungkapkan bahwa dalam pengertian ini dapat kita lihat keagungan dan kesakralan manusia dibandingkan dengan seluruh makhluk lainnya.
1. Manusia Diciptakan Sesuai Gambar Allah
Menciptakan sesuai gambar Allah tentu tidak berarti bahwa manusia memiliki penampilan atau fisik yang sama persis seperti Tuhan itu sendiri. Henry berpendapat bahwa ini mengacu pada kapasitas moral, rasional, dan spiritual manusia yang membedakannya dari makhluk lain.
Manusia memiliki kapasitas berpikir, memilih, bersosialisasi dengan Tuhan, serta membedakan baik dan buruk. Akibat penciptaan manusia tersebut, semua manusia memiliki martabat yang tinggi dan harus dihormati.
2. Tuhan Memberikan Kuasa untuk Mengendalikan Ciptaan
Tuhan memberikan tanggung jawab pada manusia untuk mengelola dunia dan menjadikan makhluk-makhluk lainnya berada di bawah kendali mereka.
Matthew Henry menyatakan bahwa kuasa ini bukan izin bagi manusia untuk merusak alam tetapi mandat untuk mengelola dan memanfaatkannya sebagai wakil-Nya di alam semesta ini.
Dalam hal ini, manusia dituntut untuk menjaga, memelihara alam ini dengan penuh tanggung jawab dan takut akan Allah.
3. Allah Memenuhi Kebutuhan Manusia
Sebelum manusia melaksanakan perannya, Allah sudah menyediakan pangan yang berupa tanaman dan buah-buahan. Ini mengisyaratkan bahwa Allah adalah Bapa yang menjaga ciptaan-Nya.
Ia tidak hanya memberikan tanggung jawab, tetapi juga menyediakan semua yang diperlukan untuk menjalankan tanggung jawab itu.
Penafsiran kejadian 1: Sungguh Amat Baik” (Kejadian 1:31)
Setelah seluruh proses penciptaan selesai, Tuhan melihat semua yang telah diciptakan-Nya dan menyatakan bahwa segalanya “benar-benar sangat baik. “
Penilaian ini berasal dari Tuhan sendiri, sehingga tidak mungkin salah. Ciptaan dianggap baik karena sesuai dengan maksud Tuhan, mencerminkan kebijaksanaan-Nya, dan beroperasi dalam keharmonisan yang sempurna.
Matthew Henry menjelaskan bahwa pada waktu itu, dunia tidak terpengaruh oleh dosa, penderitaan, kerusakan, atau kematian. Segala sesuatu berada dalam kondisi yang ideal sesuai dengan rencana Sang Pencipta.
Pernyataan “benar-benar sangat baik” juga mencerminkan kepuasan Tuhan terhadap karya-Nya. Tiada yang kurang atau berlebih. Semuanya telah diakhiri dengan sempurna.
Pelajaran Teologis dari Kejadian Pasal 1
1. Allah Adalah Pencipta Segala Sesuatu
Kejadian pasal 1 menegaskan bahwa segalanya berasal dan diciptakan oleh Allah. Tak ada yang terjadi tanpa kuasa dan kehendak-Nya.
2. Allah Bekerja dengan Keteraturan
Setiap tahap penciptaan menunjukkan sebuah pola yang teratur. Allah bukanlah Tuhan yang membawa kekacauan, melainkan Tuhan yang menciptakan segalanya dengan kebijaksanaan dan tujuan yang jelas.
3. Manusia Memiliki Nilai yang Tinggi
Selaku makhluk yang diciptakan sesuai dengan gambar Allah, manusia memiliki martabat istimewa di antara semua ciptaan. Karena manusia begitu berharga di mata Allah, maka tidak sepatutnya kita mengotori tubuh ini dengan perbuatan dosa.
4. Alam Semesta Menyatakan Kemuliaan Allah
Keindahan langit, lautan, gunung, flora, serta fauna semuanya menjadi bukti tentang kebesaran dan keagungan Bapa kita Sang Pencipta langit dan bumi beserta isinya.
5. Allah Memelihara Ciptaan-Nya
Sejak awal penciptaan, Allah memperlihatkan bahwa Ia tidak hanya menciptakan, tetapi juga menjaga dan memenuhi kebutuhan semua ciptaan-Nya.
Kesimpulan: Penafsiran Kejadian 1
Berdasarkan pendapat Matthew Henry, Allah digambarkan sebagai yang Mahakuasa, Mahatahu, dan Pencipta yang Sempurna dalam seluruh ciptaan-Nya. Allah yang menjadikan ciptaan sempurna dan Ia juga yang menjaga dan memeliharanya.
Puncak akhir dari kisah penciptaan adalah manusia yang diciptakan menurut rupa dan gambar-Nya, manusia diberi kuasa dan tanggung jawab untuk menjaga dan memeliharanya.
Dari setiap narasi penciptaan, kita meyakini bahwa semesta ini tidak pernah muncul begitu saja secara sembarangan, melainkan merupakan hasil rancangan ilahi yang memiliki makna yang sangat besar dan mendalam.
Ketika kita membaca dan merenungkan Kejadian pasal 1, kita tidak hanya dipanggil untuk memahami karya Allah terhadap semesta ini, tetapi juga menghayatinya melalui sikap ibadah terhadap Pribadi yang mewujudkannya.
Semakin membaca Alkitab, maka seharusnya kita akan semakin kagum terhadap keagungan ciptaan Allah Yang Maha Tinggi. Ya, begitu agung dan ajaib maha karya Sang Pencipta.
Sudah seharusnya kita tunduk, hormat dan menyembah Allah Pencipta langit dan bumi dan juga yang memeliharanya. Berikan kemuliaan kepada nama TUHAN.


