Pengangkatan Henokh dan Elia menyimpan makna teologis yang penting karena menjadi gambaran awal mengenai pengangkatan orang percaya yang kemudian dijelaskan lebih lengkap dalam Perjanjian Baru. Tuhan Yesus dan para rasul banyak mengajarkan mengenai hal ini.
Artinya, apa yang dialami oleh Henokh dan Elia merupakan sebuah peristiwa yang saling melengkapi antara karya dan rencana Allah di sepanjang Alkitab.
Pengangkatan Henokh dan Elia menjadi suatu pengingat bagi bangsa Israel dan orang percaya bahwa menjaga kekudusan dan kesucian hidup itulah yang dikehendak oleh Allah.
Henokh disebut-sebut sebagai orang yang hidup benar dan setia kepada hukum-hukum Allah. Adapun Elia yang juga sangat setia melayani Allah meskipun bangsanya terus bertindak jahat dan menyembah kepada berhala.
Melalui kisah hidup mereka, Allah menunjukkan bahwa orang-orang yang hidup bersama-Nya tidak akan malu. Oleh karena itu, kisah Henokh mengajarkan para umat Allah untuk terus hidup dalam kesalehan dan kesetiaan kepada-Nya.
Mengapa Henokh dan Elia Diangkat ke Surga?
Mengapa Henokh Diangkat ke Surga? Pengajaran mengenai pengangkatan tersebut berlanjut dalam Kitab Perjanjian Baru. Tuhan Yesus berulang kali mengingatkan para murid agar selalu waspada dan juga berjaga-jaga dan siap menyambut kedatangan Anak Manusia.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan hari itu akan tiba. Oleh sebab itu, setiap orang percaya dipanggil untuk hidup setia setiap hari, bukan hanya ketika tanda-tanda akhir zaman mulai terlihat.
Matius 24:40-42 menuliskan:
“Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang”.
Sebagai contohnya, Tuhan Yesus menjelaskan bahwa jika ada dua orang bekerja di ladang, satu orang diangkat sementara yang satunya ditinggalkan (Mat. 24:40). Begitu juga dengan dua orang perempuan yang sedang memutar batu kilangan, satu orang dibawa sementara yang satunya ditinggalkan (Mat. 24:41).
Pada contoh ini ditemukan bahwa kedatangan Kristus akan berlangsung secara tiba-tiba dan akan menyebabkan pemisahan yang nyata bagi umat manusia.
Jadi, pengangkatan Henokh dan Elia menjadi dasar bagi pengajaran mengenai pengangkatan atau rapture yang dalam Perjanjian Baru. Peristiwa ini menjadi bayang-bayang dari rencana Allah yang pada waktu yang akan datang dan digenapi.
Matius 24:40 dan 41 adalah ayat Alkitab tentang pengharapan dan penghiburan bagi orang-orang percaya yang menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali.
Firman Tuhan di atas bukan hanya mengajarkan tentang siapa saja yang akan diangkat, tetapi mengingatkan kepada gereja dan orang-orang percaya untuk setiap sampai akhir.
Mereka yang tetap setia kepada Kristus serta hidup benar di hadapan-Nya akan menyambut kedatangan Tuhan dengan sukacita, bukan dengan ketakutan.
Apa Makna Teologis dari Pengangkatan
Pengangkatan Henokh dan Elia ke surga bukanlah peristiwa yang terjadi tanpa tujuan. Sejak awal, Allah telah merancangnya sebagai bagian dari rencana-Nya yang besar dan mengarah pada penggenapan di masa depan.
Peristiwa ini menjadi gambaran awal tentang pengangkatan orang percaya yang akan terjadi pada saat Kristus datang kembali. Apa yang dialami Henokh merupakan bayangan dari karya Allah yang kelak akan dinyatakan secara sempurna pada akhir zaman.
Ketika Tuhan Yesus datang di awan-awan, tujuan-Nya bukan untuk segera menghakimi dunia, melainkan terlebih dahulu menjemput orang-orang percaya yang tetap setia kepada-Nya. Inilah yang dikenal sebagai pengangkatan (rapture).
Tuhan Yesus sendiri menjelaskan bahwa Ia akan mengutus malaikat-malaikat-Nya untuk mengumpulkan orang-orang pilihan dari keempat penjuru bumi, yaitu dari timur, barat, utara, dan selatan (Mat. 24:30–31).
Oleh sebab itu, kisah pengangkatan Henokh dan Elia memiliki makna yang jauh lebih dalam dari pada sekadar mukjizat yang tercatat dalam Perjanjian Lama.
Kedua peristiwa tersebut menjadi pengajaran bagi umat Allah bahwa hidup dalam kebenaran, kesalehan, dan ketaatan kepada firman-Nya bukanlah sesuatu yang sia-sia.
Melalui kehidupan Henokh dan Elia, Allah mengajarkan bahwa mereka yang tetap berjalan bersama-Nya dan setia memegang hukum-hukum serta Taurat-Nya akan menikmati persekutuan yang kekal dengan Tuhan.
Dengan demikian, pengangkatan Henokh dan Elia menjadi dasar pengharapan sekaligus dorongan bagi setiap orang percaya untuk hidup setia sambil menantikan kedatangan Kristus.
Siapakah Henokh menurut Alkitab?
Siapakah Henokh menurut Alkitab? Henokh berasal dari garis keturunan Set, anak Adam. Ia adalah anak Yared dan ayah dari Metusalah, yakni orang yang dikenal memiliki usia paling lama di dalam Alkitab.
Henokh adalah yang saleh dan beberapa tindakannya tindakannya sangat berani menentang dan juga melawan dosa. Ada tiga hal penting yang disampaikan Alkitab mengenai Henokh. Pertama, bergaul dengan Allah. Kedua, berani mengecam ketidaksalehan, dan ketiga, Henokh berkenan kepada Allah.
Pertama, Bergaul dengan Allah
Mengapa Henokh terangkat ke surga? Jawabannya karena ia bergaul karib dengan Allah.
Kejadian 5:22:
“Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.”
Kejadian 5:22 memberikan penjelasan yang tegas dan menyebutkan bahwa Henokh takut kepada Alah. Ia juga hidup dengan kesalehan dan penuh kesetiaan kepada firman-Nya. Hidup benar dan saleh memiliki banyak tantangannya, apalagi lingkungan sekitar yang tidak mendukung.
Kejadian pasal 5 merupakan masa-masa di mana manusia sudah semakin jahat dan hidup dengan segala kejahatannya. Kejahatan manusia terlihat dan pada puncaknya pada zaman Nuh. Meskipun demikian, Henokh tidak lagi melihat penghukuman manusia melalui air bah karena ia sudah diangkat ke surga.
Kedua, Berani Mengecam Kefasikan
Yudas 1:14-15:
“Juga tentang mereka Henokh, keturunan ketujuh dari Adam, telah bernubuat, katanya: Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, hendak menghakimi semua orang dan menjatuhkan hukuman atas orang-orang fasik karena semua perbuatan fasik, yang mereka lakukan dan karena semua kata-kata nista, yang diucapkan orang-orang berdosa yang fasik itu terhadap Tuhan.”
Yudas menuliskan bagaimana Henokh mengecam kehidupan orang-orang fasik yang hidupnya penuh dengan kefasikan dan nista yang diucapkan kepada Tuhan. Orang-orang fasik hidup dan dikuasai oleh hawa nafsu.
Mereka menggerutu, banyak mengeluh, tidak mengucap syukur, dengan mulutnya mengeluarkan perkataan-perkataan yang jahat serta suka menjilat demi mendapatkan keuntungan. Hidup ditengah-tengah angkatan bangsa yang jahat tentu bukan persoalan yang mudah.
Meskipun demikian, Henokh membuktikan kemurnian imannya kepada Allah. Ia hidup dengan benar dan berani mengecam perilaku dan perbuatan-perbuatan fasik yang tidak sesuai dengan kebenaran. Biasanya, ada banyak orang yang mencari aman dan tidak berani menegur perbuatan dosa orang lain.
Ketiga, Berkenan kepada Allah
Ibrani 11:5 menuliskan demikian:
“Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah.”
Kehidupan Henokh menjadi contoh dan teladan bagi kehidupan orang-orang di sekitarnya, termasuk keluarga dan anak-anaknya. Kitab Ibrani menyebut bahwa karena iman maka Henokh terangkat ke surga, supaya ia tidak mengalami kematian.
Tanpa iman tidak mungkin seseorang dibenarkan oleh Allah, karena dengan iman mereka percaya dan dengan iman mereka juga setia kepada Allah. Paulus juga menyebutkan bahwa karena kasih karunia kamu diselamat oleh iman. Jadi, Henok dibenarkan karena imannya kepada Allah.
Imannya membuat Henokh percaya kepada janji dan kesetiaan Allah, dan dengan iman juga ia mempercayakan hidupnya kepada-Nya.
Siapakah Elia Menurut Alkitab?
1 Raja-raja 17:1:
“Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan.”
Alkitab hanya memberikan sedikit informasi mengenai latar belakang Elia. Alkitab hanya menyebut bahwa ia berasal dari Tisbe di wilayah Gilead, tanpa menjelaskan silsilah keluarganya.
Karena itu, kita bisa melihat bahwa yang menjadi fokus Alkitab ternyata bukan asal-usulnya, melainkan kesetiaannya dalam panggilan dan pelayanannya sebagai nabi Allah.
2 Raja-raja 2:11:
“Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke surga dalam angin badai”.
Peristiwa pengangkatan Elia menjadi meterai bagi orang-orang setia dalam panggilan pelayanan dan hidup benar di hadapan Allah. Henokh dan Elia mendapat penghormatan dan upah atas segala perbuatan dan kesetiaan mereka kepada Allah.
Mereka berdua tetap hidup terhormat dengan menjaga kesucian dan kekudusan di tengah-tengah bangsa yang tidak setia. Kebenaran selalu dinyatakan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.
Peristiwa ini memang tidak pernah terpikirkan dan kelihatannya sangat dramatis, mereka menjaga kehormatan Allah dengan tidak berbuat dosa sampai mereka kembali kepada Allah.
Sampai pada akhirnya mereka berdua mendapat tempat yang istimewa dan tidak mengalami kematian, mereka di angkat ke surga dengan penuh penghormatan.
Kesimpulan: Pengangkatan Henokh dan Elia
Pengangkatan Henokh dan Elia menjadi dasar teologis bagi Israel dan gereja pada masa kini, karena akan tiba waktunya umat Allah juga akan mengalami hal yang sama.
Orang-orang percaya yang hidup dengan setia seperti Henokh dan Elia akan mengalami pengangkatan ketika Yesus datang kembali. Selain itu, ini juga yang menjadi asalan mengapa manusia membutuhkan keselamatan.
Oleh karena itu, tetaplah setia kepada Allah, jagalah kesucian dan kekudusan hidup dan setialah sampai akhir, sehingga ketika waktunya tiba kita didapati tidak bercela dan berdosa.
Kiranya pimpinan Roh Kudus selalu memelihara, menjaga dan memimpin umat Allah dari hari ini sampai Yesus Kristus datang yang kedua kali.



