Posted in

Sifat-Sifat Allah dalam Alkitab

Sifat-sifat Allah dalam Alkitab

Sifat-sifat Allah adalah karakter yang dimiliki Allah secara sempurna. Hal ini merupakan sesuatu yang telah ada pada Allah sejak dulu dan bukan sesuatu yang diperoleh Allah dari sebuah peristiwa.

Allah adalah Allah yang kudus, kasih, adil, dan benar menurut sifat-Nya. Karena itu, sifat Allah tidak akan pernah berubah, berkurang, ataupun bertambah sepanjang masa.

Meskipun demikian, ada banyak penggambaran tentang Allah di dalam diri manusia. Contohnya: Ada yang menggambarkan Allah sebagai Hakim yang adil, namun terkadang mereka menganggap Allah tidak memiliki kasih.

Lalu ada yang menggambarkan jika Allah penuh dengan kasih, namun mereka lupa jika Allah juga kudus dan menghendaki umat-Nya untuk hidup kudus.

jadi, Alkitab menjelaskan bahwa Allah memiliki sifat yang seimbang dan saling berfungsi tanpa adanya konflik. Memahami dan mengenal Allah seharusnya tidak berhenti pada pengetahuan teologis saja.

Semakin tinggi tingkat pemahaman kita kepada Allah, seharusnya kita semakin mempercayai, menghormati, dan mencintai Allah dengan segenap jiwa raga kita.

Paulus merujuk pada pengenalan akan Allah sebagai dasar kehidupan orang percaya.

Roma 11:36:

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”

Apa itu Sifat-Sifat Allah?

Sifat-sifat Allah dalam Alkitab menjadi bagian penting dari ajaran iman Kristen. Apabila ada pertanyaan, “siapakah Allah yang disembah oleh orang Kristen?” Jawabannya tidak cukup hanya dengan Allah adalah pencipta alam semesta.

Dalam Alkitab, Allah dikenalkan kepada kita melalui ciri-ciri-Nya, yang memungkinkan manusia untuk mengerti sifat, kehendak, dan pelayanan-Nya.

Menurut Wayne Grudem dalam karya yang ditulisnya “Systematic Theology”, ciri-ciri Allah adalah sifat Allah yang Dia tunjukkan kepada manusia melalui firman-Nya di dalam Alkitab.

Melalui ciri-ciri tersebut, manusia dapat mengetahui tentang siapa Allah tersebut, meski tidak mungkin bagi manusia untuk benar-benar mengenalnya.

Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Louis Berkhof dalam karyanya “Systematic Theology”. Menurutnya, tidak ada ciri-ciri Allah yang bisa dipisahkan dari kehendak-Nya. Setiap kali Allah bertindak, semua sifat-Nya bekerja dengan sejalan.

Contohnya, jika Allah adalah penuh kasih, Dia juga tetaplah kudus dan adil. Begitu pula saat Allah menghukum dosa, Dia tetap penuh kasih dan setia pada janji-Nya.

Itulah sebabnya mengapa umat Kristiani harus mengerti Allah bukan dengan sifat tunggal saja. Mengerti sifat Allah sama artinya dengan mengenal Allah melalui seluruh karakter-Nya.

Mengenal Sifat-Sifat Allah

Pemahaman tentang sifat Allah sangat mempengaruhi kehidupan orang percaya. Pengetahuan yang lebih luas mengenai Allah akan membuat iman seseorang menjadi lebih kuat.

Pertama, pengetahuan tentang sifat Allah membantu kita untuk mengerti siapa yang kita sembah. Peribadatan yang baik dimulai dengan pemahaman yang tepat mengenai Allah.

Kedua, mengenal Allah memberikan penghiburan bagi kita ketika menghadapi berbagai masalah dalam hidup ini. Ketika sedang dalam kesulitan, kita tetap dapat berharap pada Allah yang setia.

Ketika merasa bersalah karena dosa, kita datang kepada Allah yang penuh belas kasihan. Namun, ketika digoda untuk hidup bebas, kita ingat bahwa Allah juga kudus dan adil.

Ketiga, sifat Allah bisa menjadi teladan bagi kehidupan orang percaya. Meskipun manusia tidak mungkin memiliki sifat yang sama dengan Allah, kita diminta untuk meniru-Nya.

1. Allah adalah Kudus

1 Petrus 1:15-16:

“Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”

Firman Tuhan ini jelas menunjuk pada sifat Allah kudus, dan kita sebagai anak-anak-Nya harus hidup kudus seperti Allah. Kekudusan adalah salah satu sifat Allah yang paling sering disebutkan di dalam Alkitab.

Kudus artinya suci, murni, dan sempurna. Dosa atau kejahatan sama sekali tidak ada di dalam diri Allah.

Saat Yesaya mengalami penglihatan tentang takhta Allah (Yesaya 6:3), dia mendengar para Serafim memuji-Nya:

Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!”

Tiga kali pengulangan kata “kudus” untuk menggambarkan betapa kudus dan sempurnanya kekudusan Allah. Tidak ada makhluk yang bisa dibandingkan dengan kekudusan-Nya.

Sebab Allah kudus, maka Dia pun sangat benci kepada dosa. Nabi Habakuk 1:13 mengatakan:

Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman. Mengapa Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia?

Inilah mengapa dosa pasti akan dibalas dengan hukuman jika tidak diselesaikan melalui penebusan Kristus. Namun, kekudusan Allah bukan hanya berkaitan dengan hukuman.

Keberadaan kekudusan Allah juga berarti bahwa Allah bisa kita percayai sepenuhnya. Segala yang diperbuat-Nya selalu benar, adil, dan tidak pernah salah.

2. Allah adalah Kasih

Apabila kekudusan mencerminkan perbedaan Allah dengan ciptaan-Nya, maka kasih mencerminkan kepedulian Allah kepada umat yang dikasihi-Nya.

Kasih Allah disebutkan oleh Rasul Yohanes sebagai berikut(1 Yohanes 4:8):

Barang siapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.

Ayat di atas tidak berkata bahwa kasih adalah Allah, melainkan Allah adalah kasih. Ini berarti, kasih merupakan salah satu sifat atau karakter Allah.

Kasih Allah tidak sekedar perasaan atau emosi. Kasih Allah dinyatakan dengan tindakan nyata. Buktinya adalah pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib untuk menebus dosa manusia.

Yohanes 3:16 mengatakan:

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Kasih Allah bukan artinya Allah melupakan dosa-dosanya. Namun, karena kasih tersebutlah Allah telah memberikan jalan keselamatan kepada manusia berdosa itu dengan menyediakan Yesus Kristus sebagai jalan keselamatan itu.

J. I. Packer dalam bukunya “Knowing God” menjelaskan bahwa kasih Allah adalah kasih yang tidak tergantung pada keadaan manusia.

Kasih Allah adalah kasih yang sesuai dengan sifat-sifat Allah yang sempurna. Maka, kasih Allah menjadi landasan iman dari orang percaya dalam banyak pergumulan dalam hidupnya.

Jika kita bisa mengerti tentang kasih karunia Tuhan yang sebenarnya, tentu manusia tidak akan hidup dalam kepanikan atau ketakutan.

Sebaliknya, kita akan mulai belajar untuk membangun kembali kepercayaannya kepada Allah. Kasih karunia Tuhan membuat seseorang yakin bahwa Tuhan tetap berada di samping anak-anak-Nya.

3. Allah Mahakuasa

Ciri Allah lainnya yang bisa menjadi hiburan bagi orang percaya adalah kemahakuasaan-Nya. Alkitab mengajar bahwa tidak ada sesuatu pun yang mustahil bagi Allah. Kuasa-Nya tidak terbatas oleh waktu, ruang, atau kondisi tertentu.

Nabi Yeremia berdoa (Yeremia 32:17) :

Ah, Tuhan Allah! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apa pun yang mustahil untuk-Mu!

Dengan firman-Nya, Allah menciptakan langit, bumi, serta segala isinya. Allah menciptakan segala sesuatunya dari tidak ada melalui kuasa-Nya.

Meskipun demikian, Allah yang Mahakuasa tidak pernah memanfaatkan kuasanya untuk tujuan-tujuan yang sewenang-wenang. Setiap tindakan-Nya selalu sesuai dengan kekudusan, kasih, hikmat, dan keadilan-Nya.

Menurut Wayne Grudem, Kemahakuasaan Allah dapat diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan segala sesuatu yang berkenaan dengan keinginan-Nya yang suci.

Dengan demikian, Allah tidak mungkin melakukan sesuatu yang bertentangan dengan diri-Nya sendiri. Misalnya seperti berdusta atau berbohong dan berbuat jahat.

Bagi orang beriman, Kemahakuasaan Allah merupakan sumber pengharapan dan kepercayaan kepada-Nya.

Sebab, ketika mereka menghadapi sebuah kesulitan yang tampaknya mustahil diselesaikan, Allah akan bekerja mengikut rencana-Nya.

4. Allah Mahatahu

Semua yang ada diketahui oleh Allah. Tidak ada sebuah peristiwa, pikiran, atau rencana manusia yang dapat disembunyikan dari pada-Nya.

Pernyataan tersebut dikemukakan dengan baik dalam Mazmur 139:1-4:

Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan.

Pengetahuan-Nya tidak bertambah karena belajar. Ia tidak perlu mencari informasi atau menunggu sesuatu terjadi untuk mengetahuinya. Dari kekekalan, Allah sudah mengetahui seluruh sejarah dunia ini secara sempurna.

Pengertian tersebut mengajarkan kepada kita dua hal yang penting. Pertama, tidak ada dosa yang dapat disembunyikan dari Allah. Yang kedua, setiap masalah dan persoalan yang di alami oleh umat-Nya, tidak ada yang terlewatkan dimata-Nya.

Jadi, bila kita berdoa, Allah mengetahui kebutuhan kita sebelum kita sanggup berkata-kata tentang hal itu (Matius 6:8).

5. Allah Maha Hadir

Berbeda dengan manusia yang hanya dapat berada di satu tempat saja dalam jangka waktu tertentu, Allah berada di semua tempat secara bersamaan.

Seperti kata Pemazmur dalam Mazmur 139:7:

Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?

Maha Hadirnya Allah bukan berarti Allah sama dengan alam semesta. Firman Tuhan tidak mengajarkan panteisme.

Meskipun begitu, Allah tetap berbeda dengan ciptaan-Nya, akan tetapi kedatangan-Nya telah memenuhi seluruh alam semesta.

Hal tersebut pastinya menjadi sumber pengharapan bagi para orang-orang yang percaya kepada-Nya. Sebab, meskipun kita sedang berada pada masa-masa yang sulit, Allah selalu hadir di setiap musim kehidupan.

Ketika Tuhan Yesus menyampaikan pesan-Nya kepada murid-murid (Matius 28:20), Ia mengatakan:

“….Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Perintah ini bukan hanya berbicara mengenai perasaan, tetapi wujud nyata dari kuasa dan pemeliharaan Allah. Dia bukan saja sebagai penolong, tetapi juga hadir menopang mereka.

6. Allah Tidak Berubah

Ini juga menjadi bagian penting dari hidup di dunia ini. Hidup berubah, manusia berubah, bahkan kadang-kadang perasaan kita juga berubah. Namun, Allah tidak pernah berubah.

Dalam Maleakhi 3:6 tertulis:

“Bahwasanya Aku, Tuhan tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap.”

Demikian pula dalam Ibrani 13:8 tertulis:

“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”

Allah adalah sumber dari keyakinan umat-Nya. Karena itu, semua perjanjian Allah masih bisa dipercaya sebab karakter-Nya tidak pernah berubah.

Berkhof mengingatkan bahwa ketidakberubahan Allah tidak berarti bahwa Allah tidak bertindak. Meskipun masih bertindak dalam sejarah manusia; karakter, tujuan dan perjanjian-Nya tidak pernah berubah.

Oleh sebab itu, orang percaya dapat membangun hidupnya berdasarkan firman-Nya di dalam Alkitab, karena Dia tidak pernah mengingkari janji-Nya.

7. Allah Adil dan Benar

Dalam Alkitab juga disebutkan bahwa Allah adalah seorang Hakim yang adil. Tidak ada salah satu putusan-Nya yang tidak benar atau memihak.

Ulangan 32:4 mengatakan:

“Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.”

Keadilan Allah dapat dilihat saat Dia menegakkan hukuman atas dosa, namun keadilan Allah juga bisa dilihat saat Dia memberikan keselamatan dalam Yesus Kristus.

Pada kayu salib, kasih sayang dan keadilan Allah dapat dilihat secara sempurna. Dosa tidak terlewatkan, tapi dipertanggungjawabkan oleh Kristus untuk setiap orang yang percaya kepada-Nya.

8. Allah Setia

Kesetiaan Allah adalah salah satu sifat yang paling banyak dialami oleh umat-Nya dalam sejarah Alkitab.

Ratapan 3:22-23 berbunyi:

Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

Allah selalu menepati janjinya, kita percaya kepada janji dan firman-Nya. Setiap doa dan pergumulan hidup yang belum dijawab, percayalah Dia memiliki rencana yang indah buat hidup anak-anak-Nya.

Kesetiaan Allah terlihat dari pemeliharaan-Nya atas bangsa Israel, penggenapan nubuat tentang Mesias, sampai janji keselamatan bagi semua orang yang percaya pada Yesus Kristus.

J. I. Packer menekankan bahwa kesetiaan Allah tidak berarti hidup orang percaya bebas dari penderitaan. Sebaliknya, Allah setia bersama umat-Nya bahkan pada saat mereka mengalami masa-masa sulit.

Oleh karena itu, orang percaya bisa tetap berharap walau keadaan di luar sana berubah. Percayalah bahwa Allah setia.

Bagaimana Sikap Orang Percaya?

Memahami sifat-sifat Allah harus membuahkan perubahan dalam gaya hidup kita sehari-hari. Pertama, kita belajar menghormati Allah sebagai tanda penghormatan atas kekudusan-Nya.

Kedua, kita meneguhkan iman kepada-Nya karena Allah adalah Maha Kuasa dan Maha Tahu. Ketiga, kita hidup dengan penuh harapan karena Allah adalah Allah yang setia dan tidak berubah.

Keempat, kita dituntut untuk hidup lebih serupa dengan Kristus, sebab Allah memanggil umat-Nya untuk menggambarkan sifat-sifat-Nya dalam cinta, kekudusan, kejujuran, dan juga ketaatan.

Memahami Allah dengan cara yang tepat akan berdampak pada kehidupan yang bertumbuh dan menghasilkan buah.

Kesimpulan: Sifat-sifat Allah dalam Alkitab

Sifat-sifat Allah dalam Alkitab memberitahukan kepada kita siapa Allah yang sejati. Dia adalah Allah yang kudus, penuh kasih, Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Hadir, tidak berubah, adil, benar, dan setia.

Sifat-sifat tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan bekerja dengan sempurna dalam setiap aksi Tuhan. Demikian pula, orang percaya tidak boleh mengenal satu sisi dari sifat-sifat Allah.

Jadi, seiring dengan semakin banyaknya pengetahuan kita tentang Allah, maka kita semakin mengerti bahwa Dia layak untuk dipercaya, disembah dan diteladani.

Pengetahuan dan pemahaman ini tidak saja mengenalkan kepada kita tentang doktrin Alah, tetapi juga membantu kita memandang Allah dengan benar melalui kehidupan sehari-hari.

Seperti ada tertulis:

Tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah Tuhan yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman Tuhan (Yeremia 9:24).

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *