Siapa manusia menurut Alkitab? Alkitab menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari debu tanah dan Allah menghembuskan nafas hidup sehingga manusia ada dan hidup. Manusia adalah makhluk ciptaan istimewa dan mulia, karena memiliki identitas dan berbeda dengan ciptaan lainnya.
Manusia tidak hanya sekedar makhluk hidup seperti ciptaan lainnya, tetapi lebih jauh dari itu. Alkitab menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia, karena segambar dan rupa dengan-Nya. Karena itu, manusia memiliki suatu hubungan khusus dengan pencipta-Nya.
Walaupun demikian, ada banyak pendapat mengenai hal ini. Ada yang berpendapat bahwa manusia berasal dari kera yang berevolusi puluhan ribu tahun sehingga menjadi manusia sempurna. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa kehidupan dan akhir dari manusia adalah sebuah misteri.
Dalam hal ini, setiap orang, golongan atau agama tentu memiliki pandangannya sendiri-sendiri. Selain itu, ada juga berbagai upaya untuk menjawab pertanyaan tersebut dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, filosofi, budaya, atau pengalaman pribadi.
Namun Alkitab memiliki pandangan dan pendekatan yang berbeda. Artikel ini akan membahas secara detail tentang siapa manusia menurut sabda Allah di dalam Kitab Suci.
Siapa Manusia Menurut Alkitab?
Siapa Manusia Menurut Alkitab? Kitab Suci menuliskan bahwa manusia ada karena kehendak Allah sendiri.
Keberadaan manusia bukan tanpa alasan, manusia dibentuk dan diberikan kehidupan oleh-Nya.
Ini bukan sesuatu yang kebetulan, melainkan bagian dari rancangan Allah yang tak terselami oleh pikiran manusia.
Firman Allah dalam Kejadian 2:7 tertulis:
Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.
Berdasarkan ayat di atas, maka terlihat jelas perbedaan penciptaan manusia dengan makhluk lainnya yang diciptakan oleh Allah. Selain menciptakan manusia sebagai entitas kehidupan, Allah juga memberi kehidupan secara langsung melalui nafas-Nya.
Ini membuktikan bahwa eksistensi manusia memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan Allah sejak penciptaannya. Berkenaan dengan pandangan Alkitab tentang manusia, manusia bukan hanya dapat dipahami dari segi fisiologis.
Manusia memang memiliki tubuh, namun eksistensinya jauh lebih mendalam dari pada hanya bentuk tubuh fisiknya. Manusia mempunyai kesadaran, kemauan, kecerdasan berpikir, moral, kemampuan untuk berhubungan, dan juga tanggung jawab.
Dengan kata lain, manusia adalah individu dengan dimensi fisik dan juga spiritual.
Siapa Manusia: pribadi yang Diperhatikan Allah
Siapa manusia menurut Alkitab? Manusia adalah pribadi yang dikenal dan diperhatikan oleh Allah. Salah satu penggambaran yang menakjubkan tertulis dalam kitab Mazmur.
Mazmur 8:5-6 menuliskan:
Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.
Pemazmur menuliskan dengan begitu indah dan menunjukkan penghormatan manusia terhadap Allah yang memerhatikan mereka.
Bila dibandingkan dengan besarnya alam semesta, manusia adalah entitas yang sangat kecil. Bumi adalah sebagian kecil dari ciptaan Allah yang besar.
Meskipun demikian, Alkitab menyatakan bahwa manusia memiliki keistimewaan sehingga menjadi perhatian Allah.
Dalam hal ini, manusia punya cerita hidup, pertanyaan, harapan dan tanggung jawab sendiri-sendiri.
Siapa Manusia: Istimewa dan Berharga Dimata Allah
Menurut kisah penciptaan dalam kitab Kejadian, posisi manusia adalah bagian terakhir dari semua proses penciptaan. Sebelum penciptaan manusia, pertama-tama Allah menciptakan alam semesta berserta apa yang ada di dalamnya.
Ini berarti ada langit, bumi, laut, tanaman, matahari, bulan, bintang, dan berbagai jenis makhluk hidup yang ada didarat maupun yang ada di air.
Setelah semuanya ada, baru Allah menciptakan manusia.
Dari uraian di atas mengenai urutan penciptaan kita bisa mendapatkan pemahaman yang jelas bahwa manusia diciptakan pada tempat yang telah disiapkan secara sempurna oleh Allah.
Manusia tidak dibuat begitu saja tanpa adanya persiapan. Artinya, Allah secara sempurna merancang, mempersiapkan dan bekerja dan menempatkan manusia pada lingkungan yang sudah di desain.
Namun, posisi istimewa tersebut tidak berarti manusia boleh berperilaku bebas tanpa adanya tanggung jawab. Dalam hal ini, manusia dipercaya oleh Allah untuk mengelola dan memelihara ciptaan Tuhan secara bertanggung jawab.
Jadi, manusia bukanlah penguasa atas ciptaan dan dunia ini. Oleh karena itu, kita perlu mengelolanya dengan benar dan bertanggung jawab penuh kepada Allah.
Manusia Dikasihi oleh Allah
Kasih Allah tidak pernah berubah walaupun manusia sudah jatuh ke dalam dosa. Allah tidak membiarkan atau mengecewakan ciptaan-Nya.
Karena manusia telah berdosa dan terpisah dengan-Nya, maka Allah mengambil tindakan inisiatif untuk merestorasi hubungan yang sudah terputus dengan manusia. Puncak kasih tersebut terjadi melalui pengorbanan Yesus Kristus dikayu salib.
Yohanes 3:16 menuliskan:
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Kasih Allah kepada manusia bukan didasarkan pada kelayakan manusia, melainkan berdasarkan karakter Allah yang penuh kasih dan setia. Karena itulah, perbuatan baik manusia tidak bisa digunakan untuk membeli kasih Allah.
Jadi, kita tidak boleh bermegah diri dan sombong, karena kita hanyalah debu tanah. Keberadaan kita hari ini adalah wujud dari kasih Allah yang besar itu.
Pemahaman tentang bagaimana manusia berharga di mata Allah juga mempengaruhi bagaimana kita menyaksikan sesama.
Pada tahap inilah kesadaran kehidupan umat Kristen berangkat: bukannya mencari nilai dari lingkungan dunia ini, tetapi menyadari bahwa kita sudah mendapatkan nilai di hadapan Tuhan.
Sebagai orang-orang yang sudah dimerdekakan dan menerima kasih itu, kita wajib bersyukur, rendah hati dan mengasihi Allah dengan segenap hati.
Sabda Allah dalam 1 Yohanes 4:9 berkata:
Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.
Dari ayat di atas, kasih Allah benar-benar dinyatakan kepada manusia yang berdosa. Kasih manusia terbatas dan terkadang berubah-ubah, tetapi kasih Allah sempurna dan digenapi melalui kematian Kristus dikayu salib.
Tidak ada kasih yang lebih besar di dunia ini, selain kasih Allah kepada umat-Nya.