Keluarga Kristen adalah sebuah persekutuan yang dibentuk oleh Allah sendiri melalui pernikahan antara seorang pria dan wanita. Mereka bersepakat dan berjanji untuk hidup bersama, saling mengasihi, percaya kepada Kristus, dan hidup sesuai dengan kebenaran firman-Nya.
Melalui keluarga ini, setiap anggota saling belajar, saling melengkapi dan saling mencintai tanpa syarat dan selalu menempatkan Tuhan sebagai pusat hidup. Jika Tuhan bukan menjadi pusat hidup, maka perceraian keluarga Kristen akan terus bertambah.
Kalau dilihat dari Kitab Suci, gagasan tentang keluarga Kristiani sudah muncul sejak awal penciptaan, tepatnya di dalam Kejadian 2:24. Saat itu, Allah sendiri yang membentuk pernikahan sebagai momen yang sangat bermakna di hadapan-Nya.
Jadi, keluarga Kristiani bukan sekadar ucapan janji untuk hidup bersama sampai maut memisahkan. Namun lebih dari itu, keluarga Kristen ada dan dibentuk untuk memuliakan Tuhan, bertanggung jawab kepada-Nya, dan menanamkan iman untuk generasi selanjutnya.
Keluarga Kristen Menurut Alkitab
Jika bicara mengenai sebuah keluarga, maka setiap orang punya cerita yang berbeda-beda. Ada yang tumbuh di dalam keluarga yang nyaman, bahagia dan juga berkecukupan, tetapi ada juga yang sebaliknya. Meskipun demikian, ada satu hal yang pasti bahwa keluarga selalu menjadi tempat pertama bagi kita untuk mengenal dan tumbuh bersama.
Di dalam keluarga, biasanya kita bisa belajar banyak hal penting, seperti: cara berbicara, cara menghargai dan menghormati, cara mengasihi, saling peduli dan cara berdoa. Hal-hal seperti ini mungkin tidak kita temukan di tempat lain.
Karena keluarga Kristen dibentuk oleh Allah sendiri, maka Kitab Suci memberi perhatian khusus kepada keluarga. Keluarga itu bukan hanya dilihat sebagai susunan kecil dari masyarakat, tetapi juga bagian dari rencana Tuhan buat manusia (Witte, 2012).
Saat itu, Allah melihat ikatan pernikahan sebagai momen yang sangat bermakna di hadapan-Nya. Kejadian 2:24 menuliskan demikian:
“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”
Ayat ini menunjukkan bahwa keluarga Kristen bukan sekedar janji untuk hidup bersama, melainkan sebuah ikatan dan kesatuan hidup yang dibentuk oleh Allah sendiri (Calvin, 2006). Kesatuan ini mencakup ikatan pernikahan itu sendiri, yakni menjadi satu daging yang dapat berarti kesatuan fisik, emosional, dan juga spiritual.
Dengan demikian, keluarga Kristen menurut Alkitab dapat dipahami sebagai persekutuan hidup yang dibentuk Allah melalui pernikahan antara laki-laki dan perempuan.
Mereka telah dipanggil menjadi satu untuk hidup dalam kasih, kesetiaan, tanggung jawab, dan ketaatan kepada Allah sendiri.
Keluarga Kristen Terbentuk karena Rancangan Allah
Alkitab telah menuliskan dan menjelaskan bahwa keberadaan keluarga adalah bagian dari rancangan Allah sendiri. Hal ini sesuai dengan firman-Nya, supaya mereka bertambah banyak, memenuhi bumi dan mengelola alam ciptaan-Nya dengan penuh tanggung jawab.
Pandangan ini juga ditekankan dalam tradisi teologi Kristen bahwa keluarga memiliki nilai sakral karena berasal dari Allah (Witte, 2012). Karena itu, keluarga tidak bisa dipahami hanya sebagai institusi manusia, tetapi sebagai tempat di mana kehendak Allah dinyatakan melalui sebuah keluarga.
Namun dalam praktiknya, tidak semua keluarga Kristen berjalan ideal. Justru sejak awal Alkitab telah menunjukkan bahwa relasi manusia bisa menjadi perselisihan dan juga konflik. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga bukanlah tempat yang sempurna, namun menjadi tempat di mana manusia bisa belajar untuk bertumbuh bersama.
Keluarga Kristen sebagai Tempat Pembentukan Iman
Salah satu hal utama yang ditekankan Alkitab adalah pentingnya keluarga sebagai tempat pertama dan utama untuk membentuk iman dan karakter.
Di Ulangan 6:6-7, Tuhan jelas meminta orang tua untuk mengajarkan firman Tuhan ke anak-anak mereka, terus-menerus, bukan cuma sesekali, tapi benar-benar dalam keseharian.
Jadi, pendidikan iman itu bukan cuma urusan gereja ya! Keluarga di rumah justru menjadi ruang pertama di mana seseorang anak belajar soal sikap dan karakter, moral, berdoa dan iman kepada Kristus. Istilahnya, segalanya bermula dari keluarga.
Marthen Luther juga menyebut bahwa keluarga sebagai “sekolah pertama” dalam hidup manusia. Luther juga berpendapat bahwa peran orang tua itu besar; mereka membentuk karakter anak, bukan cuma lewat nasihat, tapi melalui contoh nyata sehari-hari (Luther, M. 2009).
Selain itu, banyak penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak itu lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat, bukan cuma dari apa yang mereka dengar.
Fungsi Keluarga Kristen dalam Perspektif Alkitab
Jika dilihat dari keseluruhan Alkitab, keluarga memiliki beberapa fungsi utama yang saling bergantung dan berkaitan.
Pertama, keluarga berfungsi sebagai tempat pembentukan iman. Dapat dikatakan bahwa seorang anak belajar mengenal Tuhan, belajar berdoa, membaca Alkitab, dan beribadah, mereka belajar dari teladan hidup orang tua.
Kedua, keluarga menjadi tempat pembentukan. Artinya bahwa keluarga Kristen menjadi tempat untuk menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual.
Misalnya seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kasih, berdoa, membaca Alkitab, dan beribadah di gereja. Nilai-nilai seperti ini biasanya pertama kali dipelajari di rumah bersama keluarga, dan bukan di luar.
Ketiga, keluarga menjadi tempat perlindungan emosional. Kita tahu bahwa kehidupan di dunia selalu penuh tekanan, sehingga keluarga bisa menjadi tempat yang aman bagi anak supaya dapat diterima apa adanya.
Keempat, keluarga Kristen juga memiliki fungsi sosial. Artinya, keluarga bisa mendidik dan membentuk cara seorang anak berinteraksi dengan orang lain di masyarakat.
Pandangan Tokoh-Tokoh Kristen tentang Keluarga
Dalam sejarah dan perkembangan gereja dari masa ke masa, selalu ada saja tokoh Kristen yang memberikan perhatian terhadap keluarga Kristen. Walaupun mereka berada dalam konteks zaman yang berbeda, namun mereka memiliki kesamaan pandangan bahwa keluarga dibentuk dan didirikan oleh Allah sendiri.
Augustinus: Keluarga dan Kasih kepada Allah
Keluarga merupakan bagian dari tatanan Allah dalam kehidupan manusia. Dalam karyanya On the Good of Marriage, Augustinus dari Hippo menekankan bahwa keluarga memiliki tujuan moral dan spiritual, bukan hanya biologis (Augustine, 2001). Menurutnya, keluarga yang sehat harus berpusat pada kasih kepada Allah.
Ketika manusia mulai menjauh dari Allah, maka relasi degan keluarga juga bisa menjadi terganggu. Oleh sebab itu, gagasan ini menunjukkan bahwa masalah dalam keluarga bukan hanya soal komunikasi, tetapi juga soal orientasi hidup dan juga menyangkut aspek spiritual.
John Calvin: Keteladanan dalam Keluarga
Calvin menekankan bahwa keluarga merupakan lembaga yang ditetapkan Allah untuk menjaga ketertiban hidup manusia. Dalam Institutes of the Christian Religion, ia menyoroti pentingnya keteladanan orang tua dalam mendidik anak (Calvin, 2006).
Dengan demikian, anak-anak tidak hanya belajar dari nasihat, tetapi melalui contoh nyata dari hidup orang tuanya. Karena itu, kehidupan orang tua harus mencerminkan iman dan moral yang baik melalui tindakan hidup yang nyata sehari-hari.
Dietrich Bonhoeffer: Kasih Karunia dalam Keluarga
Dietrich Bonhoeffer melihat kehidupan keluarga sebagai sesuatu yang selalu membutuhkan kasih karunia Allah. Dalam Life Together, ia menekankan bahwa tidak ada komunitas manusia yang sempurna, termasuk keluarga (Bonhoeffer, 1954).
Dalam kehidupan keluarga, ini berarti sebuah konflik pasti ada dan tidak bisa dihindari. Namun yang membedakan keluarga Kristen adalah selalu ada pengampunan dan kesediaan untuk saling menerima dalam kasih Allah.
James Dobson: Keseimbangan Kasih dan Disiplin
James Dobson menyoroti keluarga dari sisi psikologi perkembangan anak. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara kasih sayang orang tua dan disiplin dalam membentuk karakter anak (Dobson, 1970).
Menurutnya, anak yang dibesarkan tanpa disiplin akan kesulitan menghadapi kenyataan hidup, tetapi anak yang hanya menerima tekanan tanpa kasih juga akan mengalami emosional yang tidak stabil. Karena itu, keluarga perlu menjadi tempat yang seimbang antara kasih sayang dan ketegasan dalam mendidik anak.
Stephen Tong: Keluarga sebagai Mandat Allah
Stephen Tong melihat bahwa keluarga sebagai bagian dari mandat Allah bagi manusia. Ia menekankan bahwa keluarga bukan hanya untuk kehidupan pribadi, melainkan juga untuk membentuk generasi yang takut dan mengenal Tuhan (Tong, 2006).
Apabila keluarga mulai kehilangan arah rohani, maka dampaknya akan fatal dan terlihat dalam masyarakat secara luas.
Tantangan Keluarga Kristen Masa Kini
Di tengah kemajuan teknologi dan inflasi yang meningkat tajam, keluarga Kristen sekarang sedang menghadapi tantangan yang cukup kompleks. Salah satu tantangan terbesar bukan hanya masalah ekonomi saja, tetapi juga tantangan komunikasi di dalam keluarga.
Adakalanya, keluarga yang tinggal dalam satu rumah masing-masing sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Kehadiran teknologi seperti smartphone dan media sosial sering membuat interaksi di antara mereka menjadi berkurang.
Hal sederhana seperti makan bersama atau ngobrol bersama menjadi semakin jarang. Padahal justru melalui hal-hal sederhana inilah kedekatan keluarga dibangun.
Selain itu, gaya hidup individualistis juga membuat banyak orang lebih fokus pada pencapaian pribadi dibandingkan membangun relasi keluarga. Hal semacam ini secara perlahan dapat melemahkan ikatan keluarga jika tidak disadari.
Refleksi Hidup Mengenai Keluarga
Alkitab sering berbicara mengenai pentingnya membangun keluarga yang takut akan Allah. Pernikahan bukanlah dua orang yang sepakat untuk tinggal bersama, melainkan dua orang yang bersepakat untuk saling melengkapi dan bertanggung jawab kepada Allah.
Ulangan 6:6-7 juga menyampaikan hal penting, bahwa keluarga harus bisa menjadi tempat belajar tentang iman kepada Allah. Orang tua harus mengajarkan firman Tuhan ke anak-anak, ini harus dilakukan secara terus-menerus dan berulang-ulang sampai anak mengerti.
Jadi, pendidikan moral dan pendidikan iman bukan hanya tanggung jawab gereja, tetapi juga tanggung jawab keluarga. Di dalam keluargalah titik awal segalanya, tempat anak-anak pertama kali membuka mata, mendengar dan belajar tentang nilai, moral, dan iman kepada Allah. Dapat dikatakan bahwa semua dimulai dari keluarga.
Kesimpulan: Keluarga Kristen Menurut Alkitab
Dalam pandangan Alkitab, pernikahan bukan hanya berbicara mengenai urusan administratif, tetapi juga sebagai mandat Allah sendiri. Allah sendiri yang membentuk keluarga melalui pernikahan. Selanjutnya, Allah memanggil mereka untuk hidup dalam kasih, iman, pengampunan dan juga tanggung jawab.
Jadi, keluarga Kristen bukan sekedar struktur sosial saja, tetapi keluarga berperan penting dalam menggenapi rencana Allah untuk manusia. Melalui keluarga, Allah ingin membentuk generasi berikutnya untuk memuliakan nama-Nya, menyembah kepada-Nya dan juga bertanggung jawab kepada-Nya.
Beberapa pemimpin Kristen seperti Augustine, Martin Luther, John Calvin, Dietrich Bonhoeffer, James Dobson dan Stephen Tong memiliki prinsip yang sama. Mereka percaya bahwa keluarga memiliki peran kunci dalam membentuk iman dan karakter seseorang.
Oleh sebab itu, keluarga Kristen yang dewasa tidak cukup untuk sekadar dijalani. Keluarga perlu dibangun, ditata, dirawat, dan diperjuangkan setiap hari.
Tujuannya adalah supaya keluarga Kristen benar-benar menjadi terang dan berkat bagi banyak orang. Dengan kata lain, orang lain bisa melihat dan merasakan kasih Allah di tengah dunia ini melalui keluarga kita.
