Perceraian keluarga Kristen menjadi momok yang menakutkan bagi generasi muda, karena sedikit-demi sedikit keluarga anak-anak Tuhan runtuh ketika menghadapi kejamnya dunia ini. Bahkan banyak pemimpin Kristen sendiri yang jatuh dan gagal membina rumah tangganya.
Jika perceraian terus meningkat, apa yang akan terjadi dengan para pemuda-pemudi Kristen yang akan menjadi penerus tegaknya sebuah gereja. Ya, ini adalah pertanyaan yang sulit terjawab. Kita harus tetap optimis dan percaya bahwa Tuhan memiliki rencana-Nya sendiri untuk melindungi dan menjagai umat-Nya.
Saya sendiri percaya bahwa tidak ada pasangan yang menikah memiliki keinginan untuk bercerai. Apakah ini hanya keyakinan saya secara pribadi atau ada orang yang memiliki pemikiran yang sama dengan saya.
Oleh karena itu, mari kita merenung sejenak: Mengapa semakin hari ada banyak keluarga Kristen yang berantakan, porak-poranda dan runtuh? Artikel ini mencoba untuk melihat dari berbagai sisi, lalu mengamati, menganalisa dan mendeskripsikan dalam bahasa yang sederhana.
Perceraian Keluarga Kristen
Pernikahan adalah bagian terindah dalam hidup, karena Allah yang membentuk, menyatukan dan memberkati pernikahan ini. Hal ini sesuai dengan apa yang telah disampaikan dalam Kejadian 2:20-24, Allah menciptakan penolong yang sepadan bagi Adam.
Oleh sebab itu, laki-laki akan meninggalkan Ayah dan Ibunya lalu bersatu dengan istrinya. Sungguh indah sekali bagian ini jika kita membacanya dengan cermat dan sungguh-sungguh. Jadi, memilih pasangan yang sepadan juga penting ya!
Kita dapat menggambarkannya demikian: 3 tahun lalu pasangan muda berdiri di altar gereja, wajahnya tersenyum bahagia sambil mengucapkan janji pernikahan. Janji mereka adalah akan saling mencintai dalam segala hal; baik kaya atau miskin, baik sehat atau dalam keadaan sakit dan akan saling setia sampai maut memisahkan.
Namun sekarang ini, janji pernikahan sering dianggap kata-kata bualan saja. Sungguh ironis sekali! Hari ini kita banyak menjumpai perceraian keluarga Kristen terjadi di mana-mana, bahtera rumah tangga itu tidak kokoh. Akibatnya, ketika badai datang, bahtera itu hancur porak-poranda.
Dunia ini semakin hari semakin jahat, dan manusianya semakin serupa dengan dunia ini. Padahal firman Tuhan mengatakan supaya kita tidak mengasihi dunia ini dan apa yang ada di dalamnya. Jika kita mengasih ini dunia ini, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu (1 Yohanes 1:15).
Firman Tuhan dalam 1 Yohanes 1:15 mengingatkan bahwa ada banyak orang yang memilih mencintai dunia ini dari pada mengasihi Allah. Jadi, tidak heran jika ada banyak keluarga Kristen yang hancur dan rontok, karena orang-orangnya tidak takut lagi akan Tuhan.
Dalam hal ini, tidak semuanya salah. Saya hanya mengkritisi cara mereka hidup, cara mereka memandang sebuah kebenaran dan cara mereka bertindak dan mengambil keputusan.
Pernikahan Adalah Rancangan Tuhan
Sebelum kita membicarakan mengenai perceraian lebih jauh, maka kita perlu memahami makna dan tujuan pernikahan tersebut. Saya mengimani bahwa sejak awal penciptaan manusia, Allah sudah merancang dan membentuk sebuah pernikahan yang suci dan kudus.
Tuhan Yesus sendiri berkata dalam Matius 19:6:
“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
Ayat di atas menunjukkan bahwa pernikahan bukanlah soal kesepakatan antara dua orang, melainkan sebuah perjanjian pernikahan di hadapan Tuhan sendiri.
Oleh sebab itu, Tuhan Yesus sendiri menghendaki supaya mereka saling melengkapi, saling menjaga, dan saling diperjuangkan. Ingat, apa yang sudah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia.
Meskipun demikian, Alkitab juga menjelaskan mengenai siapa manusia sebenarnya. Kitab Roma 3:23 mengatakan bahwa manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah.
Jadi, saya mengambil kesimpulan bahwa jika ada dua orang berdosa hidup bersama dalam satu rumah, apa yang akan terjadi? Jawabannya adalah akan ada sebuah konflik yang akan terjadi dan konflik ini tidak bisa dihindari.
Inilah mengapa kita harus bergantung dan berdoa kepada Tuhan, karena kita sedang membutuhkan kasih karunia dan pimpinan Roh Kudus setiap hari.
Perceraian memang menjadi persoalan yang serius. Apabila melihat Data Badan Pusat Statistik, menunjukkan bahwa angka perceraian mencapai ratusan ribu setiap tahunnya. Misalnya pada tahun 2024, tercatat sekitar 394 ribu kasus perceraian di Indonesia.
Walaupun ini data secara global, namun angka perceraian keluarga Kristen juga terus terjadi. Para konselor Kristen dan pemimpin berbagai gereja mengakui keutuhan rumah tangga Kristen telah menjadi perhatian yang serius.
Fakta ini harusnya membuat kita semakin membuka mata dan melakukan sebuah refleksi. Mengapa pernikahan bisa porak-poranda dan runtuh?
Apa ada yang salah dengan bimbingan pranikah? Apa yang perlu dipelajari keluarga Kristen dari fenomena ini? Dan yang lebih penting, apa yang Tuhan kehendaki dari sebuah pernikahan?
Mengapa Perceraian Keluarga Kristen Bisa Terjadi?
Banyak orang mengambil kesimpulan bahwa pernikahan Kristen akan kuat menghadapi tantangan hidup. Namun kenyataannya tidaklah demikian. KTP Kristen tidaklah menentukan keutuhan rumah tangga, karena yang menentukan adalah iman yang kokoh dan kedewasaan rohani.
Memiliki pasangan yang sama-sama anak Tuhan Yesus tidak otomatis bisa menjadi pasangan yang sempurna. Setiap pribadi memiliki karakter, sikap dan respon yang berbeda-beda ketika menghadapi dan menyelesaikan sebuah masalah. Mereka semua memiliki emosi, ego, dan juga keterbatasan.
Selain itu, perceraian tidaklah terjadi dalam waktu singkat atau semalam saja. Perceraian terjadi karena akumulasi dari kumpulan-kumpulan persoalan yang terjadi dan tidak terselesaikan.
Biasanya, persoalan-persoalan kecil atau kesalahpahaman bisa menyebabkan komunikasi menjadi kurang hangat. Selanjutnya, sikap akan berubah menjadi dingin, kurang peduli dan ego semakin meningkat.
Belum lagi jika persoalan itu tidak terselesaikan dengan baik, sehingga akan menyebabkan hati semakin terluka. Sering kali, ada banyak keluarga Kristen yang kurang menyadari akan pentingnya sebuah komunikasi.
Apa yang terjadi ketika dua orang yang tidak sempurna, memiliki ego yang tinggi dan tidak memiliki komunikasi yang hangat. Bisakah kedua orang seperti ini mempertahankan bahtera rumah tangganya?
Jika saya dapat mengatakan, sebenarnya ada banyak sekali keluarga-keluarga Kristen yang masih tinggal dalam satu rumah tetapi sudah jauh secara emosional. Jika hal semacam ini banyak ditemukan, lalu apa yang akan terjadi dengan keluarga-keluarga Kristen?
Perceraian adalah masalah serius, namun setiap gereja memiliki tantangan yang berat dalam mengatasi hal ini. Kadang kala gembala atau pemimpin rohani cenderung pasif, sehingga gereja tidak terlihat fungsinya secara maksimal.
Penyebab Perceraian dalam Keluarga Kristen
Ada banyak penyebab perceraian keluarga Kristen di Indonesia. Berbagai penyebab tersebut kami rangkum dan akan dijelaskan secara sederhana di bawah ini.
1. Gagal dalam membangun komunikasi
Ada banyak gembala/pendeta atau konselor Kristen yang menyatakan bahwa komunikasi adalah dasar penting dalam membangun keutuhan rumah tangga. Membangun kerjasama dan komunikasi antara dua pribadi yang berbeda memang tidak mudah, inilah tantang bagi kaum muda yang ingin menikah.
Biasanya, kita sering menemukan konflik terjadi di mulai dari hal-hal yang kecil. Misalnya, dalam mengurus anak, mengantar sekolah, uang belanja atau masalah cemburu. Banyak konflik terjadi karena masalah kecil yang tidak terselesaikan dengan baik.
Kecenderungannya, dua pribadi tersebut kurang memiliki cara berkomunikasi yang baik. Akibatnya, mereka ingin didengar, tetapi kurang menghargai pendapat pasangannya. Mereka lebih cepat menyalahkan dari pada mendengarkan pendapat pasangannya.
Hal-hal semacam inilah yang pada akhirnya membuat sikap menjadi dingin, kurang peduli, ego meningkat dan menjadi konflik yang semakin besar.
2. Masalah finansial atau Ekonomi
Penyebab perceraian keluarga Kristen yang kedua adalah berkaitan dengan finansial atau masalah ekonomi. Dalam beberapa kasus, masalah keuangan juga menjadi penyebab sebuah perceraian.
Kita tahu sekarang inflasi sudah mencapai 20-50 persen, tetapi gaji karyawan masih jauh dari layak. Misalnya saja gaji UMR di Jakarta tidak mencapai 6 juta rupiah perbulan.
Padahal, minyak goreng saja harganya sudah 2 kali lipat dari tahun lalu. Biaya hidup yang meningkat secara tajam, pekerjaan sulit, jika ada pun gajinya masih sangat rendah.
Belum lagi biaya hidup juga telah meningkat dua kali lipat, cicilan di mana-mana dan cara pengelolaan uang yang berbeda-beda.
Jadi, sebenarnya masalahnya bukan pada berapa banyak uang yang dimiliki, tetapi juga tentang bagaimana caranya menghadapi persoalan dan beban hidup secara bersama-sama.
3. Terjadinya Perselingkuhan
Saya dapat mengatakan bahwa perselingkuhan masih menjadi alasan bagi terjadinya perceraian pada keluarga Kristen sampai hari ini.
Memang ini bagian yang paling berat, jika salah satu pasangan melakukan perselingkuhan maka akan menyebabkan luka yang paling menyakitkan. Selain itu, kepercayaan menjadi rusak dan rasa cinta bisa menjadi sebuah kebencian.
Sekarang ini zaman telah berubah dan teknologi juga semakin maju. Akibatnya, godaan bisa datang begitu saja melalui media sosial, aplikasi chat, atau pertemanan yang kelihatannya biasa saja.
Oleh karena itu, sebaiknya pasangan Kristen harus menetapkan batas-batas yang bijak dalam menjalin pertemanan atau berhubungan dengan orang lain.
4. Hilangnya Komitmen
Penyebab perceraian keluarga Kristen yang keempat adalah karena kehilangan komitmen. Tentu hal ini disebabkan oleh banyak. Misalnya saja karena komunikasi yang buruk sehingga menimbulkan sikap dingin dan kurang peduli dengan pasangan.
Dalam pernikahan Kristiani, tidak bisa dipisahkan dari peran Tuhan yang melampaui ikatan antara suami dan istri. Jika aspek spiritual mulai terabaikan, maka setiap pribadi cenderung lebih mengutamakan perasaan pribadi ketimbang menaati ajaran dari firman Tuhan.
Akibatnya, mereka menjadi jarang berdoa, meninggalkan persekutuan, meninggalkan ibadah dan akhirnya menjauh dari Tuhan. Semakin hari kehidupan mereka semakin dingin, hingga pada akhirnya mereka mulai hidup masing-masing. Dengan cara seperti ini maka mereka semakin tidak bisa saling memahami.
Begitulah beberapa fakta yang banyak terjadi pada pasangan Kristen saat ini. Oleh karena itu, jika ada masalah sekecil apapun seharusnya cepat untuk diselesaikan. Jangan sampai masalah kecil menjadi bom waktu yang suatu saat bisa meledak dahsyat.
Jadi, usahakan selalu untuk memperbaiki dan menyelesaikan masalah. Bangunlah komunikasi yang baik dan berusahalah untuk bertumbuh bersama. Jangan biarkan komitmen memudar, hubungan menjadi rapuh dan komitmen pernikahan menjadi hilang.
Tantangan Pernikahan Kristen Masa Kini
Kita menyadari bahwa Keluarga Kristen sekarang ini lebih banyak menghadapi tantangan yang lebih berat. Berkembangnya media sosial telah mengubah cara manusia dalam berinteraksi.
Bahayanya sekarang kita semakin mudah terhubung dengan dunia luar, sehingga menyebabkan pasangan kehilangan kedekatan satu sama lain.
Selain itu, banyak pasangan suami-istri yang menghabiskan waktu untuk menggunakan media sosial dari pada berbicara dengan pasangannya sendiri. Belum lagi, ada banyak pendapat yang mengatakan bahwa kebahagiaan pribadi adalah hal yang paling utama.
Ketika sebuah keluarga fokus pada kebahagiaan diri sendiri menjadi pusat segalanya, maka komitmen pernikahan sering kali dikorbankan. Padahal pernikahan yang sehat tidak dibangun hanya berdasarkan perasaan bahagia.
Pernikahan Kristen yang benar adalah dibangun di atas cinta kasih Kristus. Pasangan Kristen harus saling melengkapi, saling percaya dan saling setia dan tumbuh bersama di dalam Kristus.
Cara Mencegah Perceraian Keluarga Kristen
Walaupun pernikahan tidak selalu sempurna, namun munculnya konflik bisa dikurangi langkah demi langkah.
1. Bangun Komunikasi yang Baik
Ingatlah bahwa pernikahan terjadi karena dua pribadi yang tidak sempurna, mudah jatuh dalam dosa, tetapi bersepakat untuk menikah. Oleh karena itu, setiap pernikahan membutuhkan kasih karunia Allah untuk menjaga dan memberkati sebuah pernikahan tersebut.
Jadi, kedua pasangan harus belajar untuk membangun komunikasi yang baik. dan meluangkan waktu setiap hari untuk berbicara. Perlu untuk diketahui oleh pasangan muda bahwa pernikahan bukan hanya berbicara tentang pekerjaan atau kebutuhan rumah tangga saja.
Namun pernikahan juga berbicara mengenai perasaan, harapan, dan juga keutuhan rumah tangga. Komunikasi yang sehat dapat mencegah banyak kesalahpahaman.
2. Belajar Meminta Maaf
Kalimat pengakuan “aku salah” yang sederhana ini terkadang sangat sulit sekali untuk diucapkan. Oleh karena itu, setiap pasangan harus memiliki kerendahan hati supaya bisa mengaku salah ketika melakukan kesalahan.
3. Belajar Mengampuni
Kolose 3:13 menuliskan demikian:
“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
Kolose 3:13 mengajarkan bahwa setiap orang harus memiliki kesabaran dan juga memiliki kemampuan untuk mengampuni. Tanpa sabar dan pengampunan maka Pernikahan Kristen juga tidak mungkin dapat bertahan.
Dua pribadi yang sepakat untuk menikah pada waktunya akan saling mengecewakan. Jadi, belajarlah sabar dan juga memberi pengampunan dari sekarang ini.
3. Luangkan Waktu untuk Pasangan
Cinta itu seperti tanaman yang harus disiram dan dipupuk setiap waktu. Hubungan yang tidak dirawat akan terkena banyak penyakit yang membahayakan atau bahkan mematikan.
Oleh karena itu, sesibuk apapun kita perlu untuk menyediakan waktu untuk membangun kembali kedekatan kita dengan pasangan. Hal-hal sederhana seperti jalan bersama, makan atau berdoa bersama bisa menjadi perekat yang kuat dalam menumbuhkan rasa saling percaya.
Tuhan Adalah Pusat Pernikahan Kristen
Kita sering menemukan pasangan muda yang menikah, Nampak sekali bahwa mereka mengundang Tuhan pada hari pernikahan mereka. Selanjutnya, apakah mereka menjalani rumah tangganya juga bersama dengan TUHAN?
Hal ini penting sekali untuk direnungkan dan menjadi refleksi bagi kita sekarang ini. Ingatlah bahwa kasih dan kekuatan manusia itu bisa melemah, kesabaran bisa habis dan cintanya bisa memudar.
Karena itu, keluarga Kristen membutuhkan dasar dan pondasi yang kokoh untuk tetap berdiri di tengah badai. Dasar dan pondasi tersebut adalah cinta kasih Kristus kepada umat-Nya, yakni kasih yang tanpa syarat.
Jadi, bangunlah mesbah doa bersama di rumah, luangkan waktu membaca Alkitab bersama dan beribadah bersama. Kebiasaan-kebiasaan sederhana ini sering menjadi penopang keluarga saat menghadapi masa-masa sulit.
Pelajaran Penting bagi Keluarga Kristen Masa Kini
Meningkatnya angka perceraian dalam masyarakat merupakan pengingat bagi setiap pasangan Kristen.
- Pernikahan membutuhkan kesungguhan, jangan anggap akan berjalan lancar dengan sendirinya.
- Selesaikan setiap persoalan dengan tuntas, jangan tunggu hingga masalah membesar.
- Jangan menyimpan rasa sakit hati terlalu lama, karena bisa menjadi penyakit.
- Kekuatan pernikahan adalah bersandar kepada kasih Kristus.
Pernikahan yang kokoh dibangun melalui perjuangan terus-menerus, setiap hari, melewati berbagai fase kehidupan, serta dalam keadaan senang maupun susah.
Pertanyaan Perceraian Keluarga Kristen
Apakah perceraian diperbolehkan dalam Kekristenan?
Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan menghendaki pernikahan tetap utuh, sebagaimana yang telah Dia tetapkan yakni sampai maut memisahkan. Meski demikian, selalu ada situasi tertentu yang sangat kompleks dan membutuhkan pendampingan pastoral serta pemahaman yang bijaksana berdasarkan firman Tuhan.
Apa penyebab utama perceraian keluarga Kristen?
Penyebab utama yang sering ditemukan adalah karena komunikasi yang buruk, masalah finansial atau ekonomi, terjadinya perselingkuhan, hilangnya komitmen dan juga karena kekerasan dalam rumah tangga. Secara prinsip, kehidupan rohani mereka tidak lagi menjadi prioritas utama.
Bagaimana cara mencegah perceraian dalam keluarga Kristen?
Cara mencegah terjadi perceraian dapat dilakukan dengan membangun komunikasi yang baik, terus menjaga komitmen, belajar mengampuni, meluangkan waktu bersama pasangan, dan menempatkan Tuhan sebagai pusat pernikahan.
Apa yang harus dilakukan ketika pernikahan sedang mengalami krisis?
Jangan menghadapi masalah itu sendirian. Bicarakan dengan pasangan secara jujur, berdoalah bersama, dan jangan ragu mencari bantuan dari konselor, pendeta, atau pemimpin rohani yang terpercaya.
Apakah Tuhan masih dapat memulihkan keluarga yang terluka?
Jawaban Ya, Tuhan mampu memulihkan dan menolong. Percayalah Tuhan sanggup memberikan kekuatan, penghiburan, hikmat, dan harapan baru bagi mereka yang datang kepada-Nya dengan hati yang terbuka.
Kesimpulan: Perceraian keluarga Kristen
Perceraian keluarga Kristen adalah sebuah kenyataan pahit yang bisa terjadi kapan saja. Namun ini juga mengingatkan bahwa setiap hubungan perkawinan memerlukan perhatian, janji, dan uluran tangan dari Sang Pencipta.
Di tengah berbagai persoalan dan beban hidup yang melanda keluarga-keluarga Kristen, TUHAN menghendaki para suami istri untuk menjalani bahtera rumah tangga dengan cinta, pengampunan, dan kesetiaan sampai maut yang memisahkan.
Jika hari ini rumah tangga Anda sedang diterpa badai kencang, janganlah terburu-buru untuk menyerah. Carilah TUHAN, jalin kembali komunikasi yang baik dengan pasangan. Jangan lupa libatkan Tuhan dalam setiap doa bersama dengan keluarga .
Banyak hubungan pernikahan yang porak-poranda dan runtuh, namun tidak sedikit pula yang bisa bangkit dan membangunnya kembali. Karena itu, andalkan Tuhan selalu dalam segala hal, semoga Dia selalu memberkati keluargamu.
Pada akhirnya, pernikahan yang tetap kokoh bukanlah terjadi karena pasangan yang sempurna, melainkan karena dua pribadi yang terus belajar mencintai sebagaimana Kristus mencintai mereka. Percayalah bahwa pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat.
