Berdamai dengan masa lalu bukan berarti kita lupa dengan semua kejadian yang pernah kita alami dan jalani. Mungkin ada pengalaman yang buruk maupun yang baik di sana.
Belum lagi berbagai kesalahan dan keputusan yang membuat kita menyesal, mungkin ada luka dan membutuhkan waktu untuk sembuh.
Berdamai dengan masa lalu berarti kita juga belajar menerima bahwa masa lalu sudah termasuk dalam proses perjalanan kehidupan kita. Kita tidak bisa mengulangi kejadian itu, tetapi kita bisa menyerahkan kepada Tuhan dan memutuskan untuk maju.
Renungan harian hari ini mengambil tema “Berdamai dengan masa lalu.”
Pembacaan nast dari Filipi 3:13-14.
Pembacaan firman Tuhan bersama Filipi 3:13-14:
Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.
Apa Arti Berdamai dengan Masa Lalu
Renungan harian hari ini, mengajak kita untuk memulihkan diri, menata hati dan fokus kepada masa depan. Berdamai dengan masa lalu berarti memahami, menerima, dan melupakan fakta bahwa ada beberapa hal dalam hidup kita yang tidak bisa kita ubah kembali.
Bisa jadi di suatu titik dalam hidup kita pernah gagal, kecewa pada seseorang, gagal dalam usaha dan karier, hingga dilukai oleh seseorang.
Hal-hal seperti ini tentu sulit kita lewati, namun ini bukan berarti kita terus membawa hal ini mengikutinya ke mana pun di dalam hidup kita.
Berdamai tidak berarti kita lupa akan semuanya. Ini berarti kita sudah tidak memberikan ruang bagi masa lalu untuk mengganggu jiwab serta hati kita.
Memang, masa lalu kita tak bisa kita ubah lagi, namun dengan bersama Tuhan kita bisa melangkap menyongsong masa depan.
1. Melupakan Masa Lalu
Saudara-saudara terkasih, mungkin hari masih ada yang hidup dimasa lalu, menyimpan kepahitan, menyimpan dendam, atau selalu mengingingat berbagai kegagalan. Hal ini tidaksalah, tetapi jika masa lalu itu mengganggu dan membuat kita sulit bangkit, mak ini salah.
Dalam tulisannya, Paulus menulis berkata: “Saya melupakan apa yang telah di belakangku.” Tidak mungkin Paulus benar-benar lupa akan masa lalunya. Ia sangat tahu tentang siapa dirinya sebelum bertemu dan mengenal Kristus.
Ia pernah menjadi penganiaya orang Kristen dan bahkan menganggap bahwa yang dilakukannya adalah sesuatu yang benar. Namun, setelah bertemu dengan Kristus, Paulus tidak membiarkan masa lalunya menjadi penentu dari siapa dirinya saat ini. Ini adalah hal yang penting untuk kita.
Adakalanya masa lalu membuat kita merasa malu, kecewa, terluka, kebencian atau bahkan menyesal. Kita sering kali berkata dalam hati bahwa “seandainya waktu itu saya memilih orang yang berbeda.” Namun, waktu tidak bisa ditarik lagi.
Maka, apapun yang telah terjadi tentunya sudah tidak bisa kita ubah dan yang dapat kita lakukan hanyalah belajar dari pengalaman.
2. Melangkah dengan Iman Mencapai Tujuan
Sebagai orang yang yang sudah diselamatkan dan dimerdekakan dari dosa, kita harus hidup dengan iman. Jangan biarkan kegagalan di masa lalu membuat kita terpuruk dan menyerah.
Berjalan dengan iman berarti berjalan dengan yakitn tetapi belum mengetahui apa yang akan terjadi di depan. Kita yakin bahwa Tuhan akan selalu ada bersama kita dan membantu tepat pada waktunya.
Terkadang, kita merasa ragu, khawatir, atau bahkan mengingat pengalaman di masa lalu kita. Namun demikian, semua hal tersebut tidak pernah menjadi hambatan bagi langkah kita.
Rasul Paulus ketika sudah bertobat, ia tidak lagi melihat ke belakang. Ia fokus pada tujuan yang telah ditentukan oleh Tuhan. Itulah yang kita harus lakukan sekarang.
Jalan yang kita tempuh bisa jadi sulit dan mungkin juga tidak bisa melihat hasilnya sekarang. Namun, kita percaya bahwa Tuhan akan selalu bersama dengan kita dalam setiap langkah kita.
Iman mengajak kita untuk berjalan meskipun jawaban belum tampak, bertahan meskipun situasi belum berubah, dan mempercayai bahwa kehidupan kita tidak mengalir tanpa tujuan.
Kita tidak perlu tahu semua hal dari awal, hanya lakukan semua itu bersama-sama dengan Tuhan.
3. Menerima Panggilan Sorgawi
Menerima panggilan sorgawi adalah mengenali fakta bahwa tujuan hidup kita bukan saja apa yang kita inginkan untuk diri kita sendiri, namun juga apa yang menjadi rencana Tuhan bagi kita.
Paulus mengatakan bahwa dia berusaha terus berlari untuk mencapai “tujuan untuk menerima hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Filipi 3:14).
Panggilan ini membuat kita belajar memandang hidup dengan cara yang baru. Kita tidak lagi berfokus pada pencapaian, pengakuan, dan kenyamanan, melainkan kita ingin menjalani hidup yang menyenangkan di hadapan Tuhan.
Mungkin kita masih belum mengerti seluruh rancangan-Nya, namun kita bisa mulai dengan setia mengeksekusi perintah dari-Nya hari ini.
Adakalanya langkah yang kita ambil mungkin kecil dan sepertinya tak bermakna, namun apabila kita menjalankan hal tersebut dengan iman dan hati yang taat, Tuhan mampu memanfaatkannya untuk mendekati kita ke arah tujuan-Nya.
Oleh karena itu, jangan biarkan kegagalan di masa lalu membuat kita merasa bahwa kita tidak berarti lagi. Dalam Kristus masih ada panggilan yang harus kita jalani.
Penutup: Berdamai dengan Masa Lalu
Berdasarkan dari berbagai penjelasan di atas, renungan harian hari mengajak kita untuk berdamai dengan masa lalu. Tentu saja kita tidak dapat merubah masa lalu, tetapi kita tidak boleh terus tinggal di masa itu.
Ada kesalahan yang perlu disadari, ada duka yang perlu diserahkan kepada Tuhan, dan ada pengalaman yang sudah cukup menjadi pelajaran bagi kita.
Paulus mengajar kita untuk lupa akan hal-hal yang berada di belakang dan fokus pada hal-hal yang berada di depan (Filipi 3:13). Yang dimaksud bukan kita menyangkal segala yang telah terjadi, namun kita tidak boleh membiarkannya menjadi hambatan kita mengenal Tuhan lebih jauh.
Bisa jadi sekarang pikiran kita masih berat, namun kita bisa memulai dari langkah kecil. Kita bisa menyerahkan masa lalu kita kepada Tuhan dan yakin bahwa Ia masih bekerja di dalam hidup kita.
Masih ada hari-hari yang disediakan-Nya untuk kita, masih ada kesempatan untuk berubah, berlayanan, mencintai, dan melakukan sesuatu yang baik.
Mungkin kita tidak tahu apa yang ada di depan, tetapi yang pasti kita tahu siapa yang mendampingi kita.
Mendamaikan diri dengan masa lalu adalah melupakan hal-hal yang tidak bisa kita ubah dan jadikan semuanya sebagai pembelajaran hidup. Percayalah bahwa selalu ada berkat bagi orang yang setia.