Reformasi gereja Martin Luther

Reformasi Gereja Martin Luther

Reformasi gereja Martin Luther memberikan sumbangsih terhadap perkembangan gereja dari masa ke masa, terutama dalam teologi dan doktrin. Dampak dari reformasi gereja juga menyebabkan munculnya berbagai ajaran dan denominasi gereja sampai sekarang ini.

Kitab suci yang terbuka dan bebas dipelajari juga menyebabkan munculnya perbedaan mengenai doktrin dan ajaran gereja. Meskipun demikian, perbedaan-perbedaan tersebut juga memberikan dampak yang positif.

Setiap gereja dapat menunjukkan perannya masing-masing sebagai sebagai tubuh Kristus, sehingga gereja-gereja tersebut dipakai untuk menyatakan karya-karya-Nya di dalam dunia.

Reformasi gereja Martin Luther

Menjelang akhir abad pertengahan, tepatnya di awal abad ke-16, praktik pemberian pengampunan dosa atau indulgence banyak disalahgunakan di berbagai wilayah Eropa.

Sejumlah pemuka agama menyatakan bahwa dengan menyumbangkan dana untuk pembangunan gereja atau keperluan lain, seseorang dapat dengan mudah meraih indulgence.

Tokoh paling terkenal yang berkaitan dengan praktik ini adalah Johann Tetzel, seorang biarawan dari ordo Dominican. Ia berkhotbah untuk mengumpulkan dana guna pembangunan Basilika Santo Petrus.

Banyak pihak merasa cara Tetzel menyampaikan pesannya menyesatkan, karena seolah-olah uang dapat secara langsung “membeli” berkat spiritual.

Reformasi gereja Martin Luther memang memberikan dampak yang sangat besar bagi gereja, sehingga banyak tokoh-tokoh yang mengikuti dan melanjutkan reformasi tersebut.

Tujuannya utamanya adalah supaya gereja kembali kepada ajaran Alkitab dan bukan kepada tradisi gereja. Hal ini sangat penting sekali supaya kemurnian pengajaran dan iman selaras dengan ajaran Alkitab.

Reformasi dipicu oleh surat “indulgence” atau surat penghapusan hukuman (temporal) dan menjadi titik awal reformasi Luther. Indulgence sendiri dalam praktiknya berhubungan erat dengan pengampunan dosa dan sakramen tobat.

Dalam ajaran Katolik sendiri, dosa memberikan dampak dan akibat yang serius kepada manusia. Akibat dari dosa itu ada dua: pertama adalah kesalahan (kesalahan adalah dosa itu sendiri) dan kedua adalah hukuman (siksaan) akibat dari dosa itu sendiri.

Kesalahan dan dosa dihapus apabila diampuni, tetapi hukuman dari dosa yang diampuni tetap ada. Misalnya Daud selingkuh dengan Betsyeba. Dosanya telah diampuni karena bertobat, tetapi hukuman dari dosa yang diampuni tetap ada dan diterima oleh Daud.

Oleh sebab itu, secara prinsip Luther tidak menentang surat indulgence, tetapi ia menentang praktik-praktik dari penggunaan surat itu untuk mendapatkan uang. Pada masa itu, surat indulgence dianggap dimanfaatkan dan juga disalah-gunakan oleh para rohaniwan untuk mencari dana, khususnya membangun Basilika Santo Petrus.

Reformasi Menyebabkan Penganiayaan

Kisah reformasi gereja Martin Luther tentu terjadi secara tidak terduga, sehingga gereja Katolik sendiri tidak pernah menyangka jika ada perlawanan keras mengenai ajaran yang telah ditetapkan dan dikanonisasi oleh Paus.

Inilah yang menyebabkan Martin Luther menolak penggunaan indulgence, karena menyebabkan praktik-praktik yang salah dengan mengataskan nama agama. Selain itu, kekuasaan Paus memang terlalu berlebihan dan tidak sesuai dengan ajaran Alkitab.

Reformasi gereja Martin Luther di Jerman pada waktu itu berada di bawah kekuasaan kekaisaran Romawi Suci telah berkembang secara pesat. Ajaran tentang Kristen Protestan berkembang di negara Perancis sekitar tahun 1521.

Perkembangan Kristen Protestan di Perancis sangat pesat sekali, sehingga menimbulkan ketegangan antara orang Katolik tradisional dengan ajaran baru Kristen Protestan.

Gereja Menjadi Kejam

Dikutip dari Worldhistory.org hari St. Bartholomew adalah hari pembantaian secara besar-besaran yang dilakukan oleh umat Katolik kepada umat Kristen Protestan di Prancis. Pembantaian ini berlangsung selama dua bulan dan dimulai pada tanggal 24 Agustus 1972.

Pembantaian ini adalah sejarah yang paling kelam dalam sejarah Kekristenan dan umat beragama, karena menewaskan sekitar 5 ribu hingga 25 ribu orang. Ketegangan demi ketegangan di antara kedua belah pihak terus berlanjut.

Karena takut akan pemberontakan, maka beberapa kali terjadi pembunuhan kepada para pemimpin dan umat Kristen Protestan.

Kisah reformasi gereja oleh Martin Luther sangat memberikan pelajaran yang berharga bagi kekristenan. Bagaimana kehidupan umat yang memiliki agama kadang menjadi sesat dan melakukan kejahatan atas nama agama.

Reformasi juga menunjukkan kemurnian dari hati orang-orang percaya yang sudah mengalami pertobatan. Sejarah gereja pernah mengalami masa gelap dan sangat keji, tetapi semuanya telah selesai dan keduanya telah hidup berdampingan dengan kasih Kristus.

Ini menjadi kisah inspiratif bagi umat Kristen untuk belajar dari masa lalu. Hukum-hukum dan aturan-aturan gereja yang tidak berdasarkan Alkitab (tradisi gereja) bisa sangat berbahaya dan sebaiknya dihapus.

Karena aturan dan tradisi gereja yang tidak berdasarkan kebenaran Alkitab bisa menyesatkan. Hendaknya ajaran gereja kembali kepada kebenaran dan kemurnian dari ajaran Alkitab itu sendiri dan bukan berdasarkan warisan atau tradisi.

Reformasi gereja dan Dampaknya bagi Gereja Masa Kini

Reformasi gereja Martin Luther memberikan dampak yang besar terhadap pembaharuan, perkembangan dan juga ajaran-ajaran gereja. Hal ini terlihat dari munculnya berbagai denominasi gereja yang ada di seluruh dunia.

Gereja terus mengalami perkembangan dan pertumbuhannya yang pesat, karena jumlahnya terus bertambah setiap tahun baik secara kualitas maupun kuantitas. Ada banyak tokoh-tokoh Kristen yang berhasil memberitakan Injil dan membangun gereja yang besar. Gereja tidak lagi kaku, tetapi gereja semakin peka terhadap ajaran Kristusn.

Reformasi juga membuat perkembangan ilmu teologi semakin maju, di mana muncul banyak sekali sekolah-sekolah Alkitab yang menghasilkan para teolog dan mahasiswa teologi yang alkitabiah. Ajaran-ajaran gereja lebih berpusat kepada Alkitab berpusat kepada para pemimpin agama.

Apabila melihat kepada Perjanjian Baru melalui pengajaran Tuhan Yesus dan para rasul, maka makna gereja yang sebenarnya adalah orang-orang percaya. Gereja bukanlah gedung, tetapi gereja adalah orang-orang percaya di mana Kristus ada di hati mereka.

Gereja yang benar adalah gereja yang melakukan perintah Allah. Tuhan Yesus adalah pokok anggur dan gereja atau orang-orang percaya adalah ranting-rantingnya. Jadi gereja yang benar adalah gereja yang hidup dan menaati perintah Tuhan Yesus.

Apabila gereja dan umat Tuhan menjadi jahat maka ia tidak menempel pada pokok anggur itu (Tuhan Yesus), tetapi mereka hidup berdasarkan keinginannya sendiri. Oleh sebab itu, kita harus tetap menempel pada pokok anggur itu supaya kita hidup dan menghasilkan buah yang baik.

Kisah reformasi gereja oleh Martin Luther memang memberikan dampak yang besar terhadap perubahan dan tata kelola gereja. Reformasi gereja juga memberikan dampak terhadap teologi dan ajaran-ajaran utama gereja.

Dan lebih dari itu, reformasi juga memberikan peluang bagi bertambahnya denominasi-denominasi gereja, karena tidak ada aturan yang mengatur hal itu. Kemungkinan besar denominasi gereja akan terus bertambah banyak.

Hal ini juga yang akan menjadi kekhawatiran bagi gereja-gereja masa kini, karena akan ada guru-guru palsu dan pengajar sesat serta gereja sesat menjelang akhir zaman.

Kesimpulan: Reformasi Gereja Martin Luther

Kisah reformasi gereja oleh Martin Luther memang memberikan dampak positif dan juga negatif. Dampak positifnya adalah gereja kembali kepada ajaran yang mula-mula yaitu yang bersumber pada Alkitab dan bukan kepada tradisi gereja.

Sedangkan dampak negatif dari reformasi gereja adalah terjadinya penganiayaan dan pembunuhan kepada umat Protestan khususnya di Perancis Oleh umat Katolik.

Tokoh-tokoh reformasi gereja mengembalikan kembali gereja kepada fungsi awalnya, yaitu sebagai tempat bersekutu dan beribadah kepada Tuhan. Kristus adalah kepala dari gereja-gereja, sehingga gereja harus tunduk dan taat Kristus.

Gereja yang tidak taat kepada Kristus sebagai kepala akan terlihat dari buahnya, Apakah ia menghasilkan buah yang baik atau ia menghasilkan buah yang jahat. Alkitab adalah sumber satu-satunya pengajaran yang benar.

Segala bentuk doktrin dan ajaran-ajaran gereja harus bersumber dari Alkitab itu sendiri, sebagaimana yang tertulis dalam 2 Timotius 3 ayat 16. Gereja dan orang-orang percaya dituntut untuk untuk menjadi terang dan garam dunia sebagaimana yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.

Apabila ia tidak menjadi garam dan terang bagi di dunia, maka ia bukan berasal dari Kristus melainkan berasal dari si jahat atau iblis.

Kiranya kisah reformasi gereja oleh Martin Luther dapat memberikan pengetahuan dan juga pemahaman yang benar kepada umat supaya bisa menjadi orang Kristen yang benar.

Mari kita membangun persekutuan dengan Allah, supaya kita tidak jatuh kedalam pencobaan. Dengan ketaatan kepada hukum-hukum-Nya, maka percayalah bahwa selalu ada berkat bagi orang yang setia kepada firman-Nya.

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *