Siapakah Roh Kudus? Roh Kudus adalah pribadi ketiga dari Allah Tritunggal yang memiliki hakekat ilahi yang sama dengan Allah Bapa dan Allah Anak. Di adalah Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa (Yohanes 15:26).
Dengan demikian, ketika berbicara mengenai Roh Kudus kita tidak hanya berbicara mengenai kuasa dan peranan-Nya saja. Namun kita juga berbicara mengenai pribadi Allah sendiri.
Jika kita membaca di dalam Alkitab, kita dapat melihat bahwa sebelum Tuhan Yesus disalibkan, Ia memberikan sebuah janji kepada murid-muridnya.
Yesus berkata dalam Yohane 14:16-17:
“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran”.
Ia juga berkata dalam Yohanes 16:7:
“Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu”.
Saat kita membaca ayat-ayat di atas, ketika Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya bahwa mereka akan menerima Roh Kudus, Dia belum terangkat kesurga.
Firman-Nya menunjukkan bahwa Roh Kudus (Penolong) belum datang kepada manusia dan kata-kata-Nya dimaksudkan untuk meyakinkan janji-Nya kepada murid-murid. Namun akan tiba waktunya janji itu akan digenapi.
Siapakah Roh Kudus?
Siapakah Roh Kudus? Berdasarkan firman-Nya dalam Alkitab, kita dapat mengetahui bahwa Roh Kudus akan datang setelah Yesus terangkat ke surga.
Roh Kudus turun dengan penuh kuasa pada hari Pentakosta untuk tinggal di dalam diri orang percaya (1Kor. 6:19-20) dan di dalam gereja Allah (1Kor. 3:16; 2Kor. 6:16).
Dalam kitab Kisah Para Rasul, kita melihat ketika Petrus pergi ke rumah Kornelius dan memberitakan Injil kepada seisi rumahnya, mereka semua menerima Roh Kudus, bahkan ketika Petrus masih berbicara.
Petrus dan orang-orang Kristen dari bangsa Yahudi yang menyertainya “mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah” (Kis. 10:46).
Karena Roh Kudus adalah pribadi, maka siapakah Dia? Jika kita ingin mengetahui sipa Roh Kudus dengan kemampuan manusia, maka ini tidak mungkin karena manusia terbatas. Karena itu, kita bisa mengenal-Nya jika hidup kita dipimpin oleh Roh Kudus sendiri.
1. Roh TUHAN
Siapakah Roh Kudus? Dalam Perjanjian Lama, Roh Kudus sering disebutkan sebagai Roh Tuhan. Nabi Yesaya menjelaskan tentang ini, bahwa Roh Tuhan memberikan hikmat, pengertian, nasehat, keperkasaan dan membawa kita takut akan Dia.
Yesaya 11:2:
Roh Tuhan akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan Tuhan.
2. Roh Kristus
Roma8:9:
Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.
Siapakah Roh Kudus? Roh Kudus juga disebut sebagai Roh Kristus. Paulus menuliskannya dengan cukup jelas, orang yang percaya tidak lagi hidup dalam daging melainkan di dalam roh, karena Roh Allah tinggal di dalam diri orang percaya.
Namun jika seseorang tidak Roh Kristus, maka ia bukan milik Kristus. Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Roh Kristus sama dengan Roh Allah atau Roh Kudus. Jadi, ini adalah pribadi yang sama.
3. Seorang Penolong atau Roh Kebenaran
Siapakah Roh Kudus? Dalam Perjanjian Baru, sebutan atau peran Roh Kudus begitu sangat jelas. Yohanes menuliskan bahwa Roh Kudus adalah seorang penolong, Dia adalah Roh Kebenaran.
Yohane 14:16-17:
“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran”.
Allah adalah Roh, tetapi kita adalah daging. Dia melampaui kemampuan kita dan tak terhampiri oleh kemampuan manusia.
Dekrit Nicea, yang ditetapkan dalam Sidang Nicea pada tahun 325, menggambarkan bagaimana doktrin Tritunggal ditetapkan untuk menengahi berbagai perdebatan mengenai keilahian Kristus dan sifat ke-Allahan.
Sejak abad ke-4 Masehi, baik Gereja Katolik Roma maupun Kristen Protestan, telah berpegang pada konsep Allah Tritunggal sebagai dasar iman Kristen. Walaupun tak dapat disangkal, mencoba memahami ke-Allah-an sepenuhnya sering kali menimbulkan perbedebatan, karena perbedaan pandangan.
Mengenal Roh Kudus
Alkitab memberitahukan kepada kita bahwa Allah adalah Roh (Yoh. 4:24). Jadi bagaimana orang dapat sungguh-sungguh mengenal Dia? Karena Dia adalah Roh.
Jadi, kita mampu mengenalnya karena Dia telah menyingkapkan atau menyatakan diri-Nya melalui Kita Suci.
Sebelum penyaliban Yesus, tidak ada orang yang memahami perkara rohani yang luas, kecuali Allah menyatakannya kepada orang-orang pilihan.
Apabila kita menerima Roh Kudus dan tunduk pada pimpinan-Nya, barulah kita dapat dituntun kepada seluruh kebenaran (Yoh. 16:13). Melalui Roh Kudus, kita dapat menyelidiki hal-hal tersembunyi dari Allah.
Roh Kudus membantu kita menemukan intisari pesan di dalam Alkitab, menafsirkan makna Alkitab, dan mengajarkan Firman kepada orang lain dengan benar.
Mengenai upaya memahami perkara-perkara rohani, Rasul Paulus mengatakan (1Kor. 2:11):
“Siapa gerangan di antara manusia yang tahu apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat didalam diri Allah selain Roh Allah”.
Jadi, untuk memahami tentang Allah dan Roh Kudus kita membutuhkan hikmat dan wahyu rohani melalui Roh Kudus sendiri. Karena itu, kita harus bersandar pada Roh Kudus, dan bukan pada hikmat duniawi.
Alkitab seringkali memakai istilah Roh Kudus dan Roh Allah secara bergantian, untuk menjelaskan bahwa Roh Kudus adalah Roh Allah.
Dari petunjuk ini, kita mengetahui bahwa Roh Kudus tidak terpisahkan dari Allah; karena Roh Kudus adalah Allah sendiri.
Mengenal Doktrin Roh Kudus
Jika kata “doktrin” ditambahkan pada kata “Roh Kudus,” maka sebagian besar orang akan langsung mengarah pada pembahasan mengenai doktrin Roh Kudus (Pneumatologia). Namun, sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, ada pertanyaan lain yang perlu dibahas terlebih dahulu.
Apa alasan gereja memiliki doktrin tentang Roh Kudus? Pada dasarnya, pertanyaan ini sangatlah penting karena doktrin bukanlah sekedar teori melainkan hasil pemahaman gereja atas kesaksian Alkitab secara utuh.
Perlu diketahui bahwa pembahasan mengenai Roh Kudus dalam Alkitab tidak disusun dalam satu kitab atau satu pasal khusus. Kita menemukannya sejak halaman-halaman pertama Kitab Kejadian hingga bagian akhir Perjanjian Baru.
Setiap penulis kitab menulis mengenai Roh Kudus berdasarkan konteks penulisannya masing-masing. Oleh karena itu, jika seseorang hanya mempelajari beberapa ayat tertentu, ia tidak akan memperoleh gambaran yang utuh.
Gereja kemudian menyadari bahwa perlu dilakukan pengumpulan seluruh bagian tersebut dan dipelajari bersama-sama untuk mendapatkan pemahaman yang benar. Berdasarkan kebutuhan tersebut, dibuatlah apa yang disebut sebagai doktrin Roh Kudus atau Pneumatologi.
Doktrin ini tidak sebagai penambahan Alkitab, dan juga bukan hasil spekulasi para teolog. Namun, doktrin ini adalah upaya menyatukan semua pengajaran Kitab Suci tentang Roh Kudus, mengorganisirnya, agar dapat dipelajari, diajarkan dan dipertanggungjawabkan.
1. Mengapa Doktrin Ini Muncul?
Jika kita perhatikan pada zaman para rasul, gereja belum mengenal konsep seperti Kristologi, Soteriologi, atau Pneumatologi. Para rasul memberitakan Injil dan menulis surat-suratnya untuk menjawab masalah aktual yang dihadapi oleh jemaatnya.
Untuk itulah, ajaran tentang Roh Kudus tersebar dalam berbagai kitab, mengikuti kebutuhan masing-masing jemaat serta kondisi yang ada.
Namun, keadaan tersebut berubah ketika gereja mulai tumbuh ke berbagai daerah dan menyebar keberbagai negara. Dengan bertambahnya jumlah orang percaya, juga bertambahlah pertanyaan-pertanyaan yang timbul.
Bukan hanya itu saja, namun ada pula ajaran-ajaran yang mencoba menjabarkan iman Kristen dengan cara yang kontradiktif dengan kesaksian Alkitab. Dalam kondisi seperti itulah gereja merasakan perlunya merangkum semua pokok ajaran agar mereka memiliki dasar yang jelas.
Upaya tersebut kemudian berkembang menjadi pengetahuan yang sekarang ini disebut teologi sistematika. Melalui pendekatan ini, semua ajaran Alkitab dikelompokkan sesuai tema-tema pengajaran mereka.
Pengajaran tentang Allah disusun dalam satu bagian, keselamatan dalam satu bagian, Roh Kudus dalam satu bagian dan seterusnya.
Ini membantu gereja melihat hubungan antar ayat tanpa mencabutnya dari konteks keseluruhan Alkitab.
2. Jejak Doktrin Roh Kudus dalam Sejarah Gereja
Pembentukan doktrin tidak terjadi secara instan. Untuk beberapa ratus tahun pertama, gereja lebih memfokuskan pada masalah seputar pribadi Kristus dan mengajar mengenai Allah Tritunggal.
Ini tidaklah mengherankan mengingat adanya berbagai teori yang menyangkali kedaulatan Kristus atau bahkan hubungan-Nya dengan Bapa.
Namun demikian, diskusi tentang Roh Kudus tidaklah berhenti. Para bapa gereja mulai menjelaskan mengenai apa yang difirman dalam Alkitab tentang Roh Kudus haruslah dijelaskan secara utuh dan dalam hubungan dengan Bapa dan Anak.
Hal ini semakin jelas ketika gereja membuat pengakuan iman untuk mencegah berbagai penyimpangan dari kemurnian ajaran Kristen. Masa Reformasi membawa kembali perhatian terhadap kitab suci sebagai inti dari kehidupan gereja.
Orang-orang seperti Martin Luther dan Yohanes Calvin menegaskan bahwa setiap doktrin harus dibangun atas dasar Alkitab dan bukan tradisi manusia. Hal serupa dilakukan dalam diskusi tentang Roh Kudus.
Semua hal yang diajarkan gereja harus dapat dibuktikan atas kesaksian Kitab Suci. Metode ini merupakan salah satu karakteristik teologi Reformed sampai hari ini.
3. Mengapa Menjadi Doktrin Gereja?
Pendapat lain menyebutkan bahwa doktrin merupakan sekumpulan formulasi yang dikembangkan oleh para teolog. Pandangan seperti ini sebetulnya kurang pas.
Formulasi doktrin tersebut dikembangkan sebagai upaya gereja untuk mempertahankan kemurnian ajaran Alkitab dan melawan ajaran-ajaran palsu atau menyimpang.
Tanpa ada formulasi doktrin, semua orang bebas untuk mempelajari Alkitab berdasarkan pemahaman mereka masing-masing. Hal ini membuat ajaran gereja mudah berubah tergantung pengalaman, budaya, atau pikiran zaman. Dengan doktrin, gereja memiliki standar yang sama untuk memahami Alkitab.
Hal itulah yang membuat doktrin tentang Roh Kudus diterima sebagai ajaran gereja. Bukan karena keputusan suatu lembaga atau pendapat seorang teolog, melainkan karena kesaksian Alkitab yang diolah secara menyeluruh.
Gereja cuma menggolongkan ajaran yang telah Allah nyatakan di dalam Alkitab, bukan menciptakan ajaran baru.