Kejatuhan manusia dalam dosa merupakan sebuah peristiwa penting dalam narasi Alkitab tentang pemberontakan manusia. Dari sini kita dapat mengetahui mengapa manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah bisa terpengaruh kata-kata Iblis dan melawan Allah.
Dalam Kejadian 3, dapat dilihat bahwa Adam dan Hawa tinggal di Taman Eden dengan baik-baik saja. Namun, mereka malah memutuskan untuk tidak patuh dan makan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat.
Jatuhnya manusia bukanlah masalah makan buah, melainkan ini menandakan bahwa manusia telah melakukan tindakan pemberontakan terhadap Allah. Keduanya memilih untuk lebih mempercayai kata-kata ular dibanding Allah.
Dari sini kita dapat memahami bahwa jatuhnya manusia dalam dosa bukanlah karena penciptaan Allah, melainkan karena keinginannya dan pilihan dari manusia itu sendiri.
Penyebab Kejatuhan Manusia
Jatuhnya manusia kedalam dosa tidak hanya melanggar perintah tertentu, tetapi ini merupakan bentuk ketidaktaatan yang dipilih secara serius.
Agustinus menyebutkan bahwa dosa manusia merupakan pemberontakan, yaitu upaya manusia untuk mewujudkan kehendaknya dan me,ilih untuk melawan hukum Allah.
Menurut pandangan Calvin, jatuhnya manusia merupakan bentuk kehilangan kepercayaan atas firman Allah, sehingga manusia memilih untuk tidak taat.
Ini merupakan sudut pandang yang sesuai dengan narasi yang ada di Kejadian 3:1-6. Ular itu mempertanyakan dan meragukan firman Allah, kemudian diikuti oleh Hawa. Dia melihat buah tersebut dan ingin memakannya karena memberikan pengertian.
Kejadian 3:6 menuliskan:
Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.
Dari penjelasan ini kita bisa melihat bagaimana pengaruh godaan tersebut bekerja: firman Allah diragukan, kehendak manusia mengambil posisi, dan akhirnya dibuat keputusan yang salah.
Oleh karena itu, penyebab jatuhnya manusia dalam dosa tidaklah berasal dari Allah, sebab Allah tidak mencobai manusia. Artinya, Adam dan Hawa secara sadar memutuskan untuk tidak patuh pada Allah.
Ingatlah bahwa selalu ada proses di dalam hati manusia. proses ini akhirnya membawa manusia untuk menentukan jalannya sendiri dari pada tetap taat kepada Allah.
Dampak Kejatuhan Manusia Dalam Dosa
Akibat jatuhnya manusia ke dalam dosa, berbagai perubahan besar-besaran terjadi pada hidup manusia dan relasi manusia dengan Allah. Perubahan ini juga terjadi antara manusia satu dengan lainnya, bahkan antara manusia dengan dirinya sendiri.
Dosa tidak hanya berhenti sampai pada tindakan kedua orang pertama yang ada di dalam taman Eden, tetapi akibat dari dosa tersebut tetap dirasakan hingga saat ini.
Melalui dosa, manusia merasa takut, malu, pertengkaran, penderitaan, perselisihan, pembunuhan dan kematiannya. Apa yang terjadi di Kejadian 3:19 akhirnya manusia sadar akan kematiannya, “sebab engaku debu dan engkau akan kembali menjadi debu”.
Paulus, juga menjelaskan bahwa dosa telah masuk kedalam dunia karena satu orang, dan demikian juga maut, karena semua orang telah berbuat dosa (Roma 5:12).
Kejatuhan manusia bukan hanya sekedar natasi Alkitab di masa lampau. Narasi ini menjadi dasar penting dalam memahami hidup, mengapa manusia mengapa manusia perlu mendapatkan pengampunan dan keselamatan dari Allah.
1. Hubungan Manusia dengan Allah Menjadi Rusak
Dampak pertama yang cukup jelas adalah kerusakan hubungan antara manusia dengan Allah. Sebelum jatuh dalam dosa Adam dan Hawa hidup dalam persekutuan dengan Allah.
Namun sebaliknya, setelah melanggar perintah-Nya mereka malah bersembunyi saat mendengar suara Allah berjalan di taman tersebut (Kejadian 3:8).
Rasanya takut dan malu itu terjadi karena dosa membuat manusia tak lagi datang kepada Allah dengan kebebasan seperti sebelumnya.
Menurut John Calvin, dosa adalah bentuk kerusakan yang begitu ekstrem sehingga tidak ada lagi hubungan yang benar antara manusia dengan Allah tanpa melalui anugerah-Nya.
Manusia bisa mengenali bahwa Allah itu ada namun hati manusia cenderung untuk menjauh dan mengambil jalan sendiri. Yesaya 59:2 menjelaskan bahwa “yang menjadi penyebab bagi pengasingan kamu dari pada Allahmu ialah segala kejahatanmu”.
Berdasarkan penjelasan di atas, dosa bukan hanya mengenai melanggar perintah Allah, tetapi sesuatu yang merusak persekutuan manusia dengan Penciptanya.
2. Dosa Membawa Penderitaan dan Kematian
Akibat dosa Adam masih berdampak pada penderitaan manusia hingga saat ini. Sebelum terjadi dosa, kehidupan manusia adalah sangat baik. Namun kehidupan tersebut sudah berubah.
Sekarang, dosa mengakibatkan kehidupan manusia menjadi sulit, perselisihan, pembunuhan, kebencian, bahkan sampai pada kematian. Kejadian pasal 3:16-19 menjelaskan mengenai akibat dari kejatuhan manusia akibat dosa.
Berdasarkan Roma 6:23, dapat disimpulkan bahwa Paulus juga menjelaskan dengan jelas bahwa:
“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
Kematian tersebut adalah sebuah bukti dari upah dosa yang begitu mengerikan. Dapat dibilang bahwa kehidupan sesudah dosa adalah kehidupan yang penuh dengan karunia dari Allah.
Manusia sudah tidak bisa memperbaiki keadaannya di hadapan Allah. Namun yang lebih baik, narasi Alkitab tidak hanya mengakhiri di situ saja, tetapi Alkitab menuliskan rencana Allah yang besar.
Sejak awal, Allah telah menunjukkan rencana-Nya mengenai keselamatan. Perjanjian tentang keturunan perempuan dalam Kejadian 3:15 adalah salah dasar mengenai janji Allah mengenai karya keselamatan.
Kemudian ini dipahami sebagai karya keselamatan Kristus di kayu salib yang mengalahkan kuasa dosa dan maut. Kehidupan manusia dipulihkan dan relasi dengan Allah kembali kepada keadaan semula. Kini manusia bisa langsung datang kepada Allah dan membangun persekutuan dengan-Nya.
Penutup: Kejatuhn Manusia dalam Dosa
Alkitab menjelaskan secara detail mengenai konsep dosa menurut Alkitab. Jatuhnya manusia ke dalam dosa mengingatkan kita bahwa dosa adalah sesuatu yang tidak boleh kita anggap sebagai masalah sepele.
Dosa dimulai dengan ketidakpercayaan dan ketidakpatuhan kepada Allah, saat manusia memilih untuk menuruti keinginannya sendiri dibandingkan firman Tuhan.
Dari narasi Kejadian 3 kita dapat mengetahui bahwa manusia tidak jatuh karena godaan saja, melainkan mereka membuka hati mereka terhadap godaan tersebut dan membuat keputusan untuk melawan hajat Allah.
Karena itu, hubungan antara manusia dan Allah terganggu, penderitaan muncul dalam hidup mereka, dan kematian menjadi bagian dari hidup mereka. Di Roma 5:12, kita mengetahui bahwa melalui satu orang saja dosa masuk kedalam duniadan demikian juga maut.
Tetapi, Alkitab tidak berhenti sampai situ. Meskipun manusia gagal, Allah tetap menunjukkan belas kasihan dan rencana keselamatannya. Manusia tidak mungkin menyelamatkan diri sendiri dari dosa, maka Allah memberikan jalan penyelamatan melalui Yesus Kristus.
Sebab seperti oleh dosa satu orang, semua manusia telah berdosak dan dengan demikian mendapatkan anugerah hidup oleh satu perbuatan kebenaran (Roma 5:18).
Oleh karena itu, paham tentang kejatuhan haruslah bukan sekadar memberi pengetahuan tentang seriusnya dosa, tetapi juga semakin merasa terima kasih atas kasih karunia Allah.
Manusia jatuh karena dosa, tetapi dalam Kristus ada pengampunan, pemulihan, dan kehidupan baru. Akhirnya, kisah kejatuhan tersebut akan membawa kita kembali kepada satu fakta utama yaitu: Manusia membutuhuhkan Allah.