Jangan orang fasik dan jalan hidup orang benar. Demikianlah pemazmur menjelaskan mengenai gambaran hidup manusia didunia ini. Ada yang menyukai hidup dalam kefasikan, tetapi ada juga yang menyukai hidup dalam kebenaran.
Keduanya adalah pilihan hidup, setiap orang bebas menentukan jalan hidupnya sendiri. Renungan Kristen hari ini mengajak kita semua untuk membaca dan merenungkan Mazmur 1:1-6.
Mazmur 1:1-3:
Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
Mazmur 1:4-6:
Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; sebab Tuhan mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.
Kitab Mazmur 1:1-6 memberikan nasehat supaya anak-anak Tuhan tidak hidup menurut nasehat dan cara hidup orang fasik. mengapa demikian? Karena kebenaran dan takut akan Tuhan tidak ada di dalam hati mereka, yang ada hanyalah kefasikan dan juga kejahatan.
Apa itu Jalan Orang Fasik?
Renungan Kristen hari ini mengajak kita semua untuk tidak hidup menurut jalan orang fasik. Orang fasik dalam Alkitab Perjanjian Lama umumnya digambarkan pada bangsa-bangsa di luar Israel. Orang-orang tersebut merupakan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah dan kebenaran.
Selain itu, mereka juga belum tersunat dan hidup dengan kepercayaan keagamaan tertua, yaitu berhala.
Apakah itu jalan hidup fasik? Hidup orang fasik menurut Alkitab adalah hidup yang menjauhi Tuhan dan tidak membangun firman-Nya menjadi dasar berpikir, berkata, dan bertindak.
Fasik bukan hanya orang yang pelaku, tetapi orang yang berada di dalam posisi pemberontakan terhadap rencana Allah dan menciptakan jalan sendiri.
Jalan orang fasik didefinisikan dalam Mazmur 1:1-6 di mana jalan orang fasik dipandang sebagai jalan yang tidak enak hati di hadapan Tuhan.
Meski mungkin dapat sukses di waktu sementara, hidup yang tanpa kebenaran Allah tidak akan memiliki fondasi yang kuat. Di sisi lain, orang benar didefinisikan sebagai orang yang hidupnya seperti pohon yang tumbuh di sepanjang sisi aliran air, apa yang dilakukan orang tersebut akan sukses.
Berbahagialah Yang Tidak Mengikuti Jalan Orang Fasik
Pesan pertama dari Mazmur 1 adalah kalimat yang indah, “Berbahagialah orang…” Kata ini berarti bahwa orang yang hidup bahagia atau berada dalam kondisi yang baik adalah orang yang taat pada hukum-hukum Allah.
Kebahagiaan yang dimaksud bukanlah rasa bahagia yang dirasakan seseorang karena memiliki segala sesuatu seperti harta, gelar, kesehatan, atau kesuksesan.
Kebahagiaan yang dimaksud dalam Mazmur 1 adalah tentang hubungan seseorang dengan Allah dan bagaimana hidupnya yang baik di hadapan-Nya.
1. Tidak Berjalan Menurut Nasihat Orang Fasik
Pemazmur menyatakan bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik. Hal ini menunjukkan bahwa hidup seseorang bisa dipengaruhi oleh nasihat yang didapatnya.
Bagaimana suara yang kita dengar bisa mempengaruhi bagaimana kita berpikir, dan pikiran yang kita bangun pada akhirnya akan mempengaruhi tindakan.
Nasihat orang fasik adalah nasihat yang mengarah kepada seseorang menjauh dari kehendak Allah. Meski nasihat tersebut tampak masuk akal di mata dunia, tetapi berbanding terbalik dengan kebenaran firman Tuhan.
Maka dari itu, kita harus hati-hati akan suara-suara yang kita dengar. Bukan semua nasihat. Bahkan tidak semua opini yang ramai diikuti oleh masyarakat sesuai dengan kehendak-Nya.
Selaku seorang yang beriman, firman Tuhan haruslah menjadi standar utama dalam memandang segala sesuatu.
2. Tidak Berdiri di Jalan Orang Berdosa
Selanjutnya, Pemazmur menyatakan bahwa orang yang tidak berdiri di jalan orang berdosa. Ini merupakan proses yang semakin dalam. Dimana seorang yang pada awalnya hanya menuruti nasihat yang salah mulai menjalani jalan tersebut. Dia bukan lagi menuruti, tapi berdiri dan menetap di sana.
Perbuatan dosa yang ditelanjangi lama bisa menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang lama diperbuat bisa membentuk karakter dan berakhir menjadi gaya hidup.
Oleh karena itu, kita tidak boleh meremehkan dosa kecil. Sebuah dosa yang tidak ditinggalkan akan membuat kita semakin menjauh dari Tuhan.
3. Tidak Duduk dalam Kumpulan Pencemooh
Mazmur 1:1 menyebutkan orang yang tidak duduk dalam kelompok pencemooh.
Cemooh adalah para penghinaan terhadap kebenaran dan penistaan akan Tuhan. Mereka tidak saja melaksanakan perbuatan jahat, tetapi mereka bisa menjadi orang-orang yang tertawa dan bangga dengan perbuatan jahat mereka.
Para pemazmur memberikan gambaran tentang suatu proses:
Berjalan → Berdiri → Duduk.
Di awal seseorang hanya berjalan bersama-sama. Setelah itu, ia berhenti dan berdiri. Di akhir, ia duduk dan merasa nyaman di dalam lingkungan tersebut.
Gambaran tersebut mengingatkan kita bahwa kehancuran rohani biasanya tidak tiba-tiba. Ada suatu proses yang pelan-pelan membuat seseorang menjadi terbiasa dengan perbuatan dosa.
Kesukaan Orang Benar Adalah Taurat Tuhan
Mazmur 1:2 membawa pandangan yang sangat berbeda terhadap orang benar.
“Namun kesukaannya adalah Alkitab Allah, dan mereka merenungkan Alkitab tersebut siang dan malam”
Orang benar bukan hanya menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan keji, namun dia juga punya hal lain yang menjadi kesukaannya, yakni firman Tuhan.
1. Firman Tuhan Menjadi Kesukaan
Orang benar tidak melihat firman Tuhan sebagai sesuatu yang menyebalkan atau menjadi tanggungan bagi hidupnya.
Firman Tuhan adalah suatu hal yang sangat dicintai karena lewat firman-Nya kita bisa mengenal akan siapa Tuhan, apa kehendak-Nya, dan bagaimana kita harus hidup sesuai dengan kebenaran.
Dalam dunia yang penuh dengan suara-suara berbeda, firman Tuhan menunjukkan arah yang pasti.
Ada banyak sekali pendapat yang dapat kita dengar melalui media sosial, berita, teman, bahkan para ahli juga memberikan pendapatnya. Namun sebagai anak-anak Allah, firman-Nya harus menjadi dasar bagi kehidupan kita.
2. Merenungkan Firman Siang dan Malam
Menurut Pemazmur, orang benar menyadari Taurat Tuhan siang dan malam. Mengerti firman tidak hanya berarti membaca Alkitab secara singkat.
Menyadari firman berarti merenung, memahami, menyimpan, dan mencoba menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Firman Tuhan harus masuk ke dalam pikiran dan hati kita.
Bila kita mengalami suatu masalah, kita akan menyadari firman Tuhan. Dengan kata lain, firman Tuhan tidak hanya dibaca saat beribadah, tetapi menjadi pedoman dalam segala aspek kehidupan.
3. Orang Benar Seperti Pohon di Tepi Aliran Air
Mazmur 1:3:
“Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil”.
Pohon ini memiliki sumber kehidupan yang mengalir secara terus-menerus. Percayalah, selalu ada berkat bagi orang yang setia dan taat pada hukum-hukum Allah.
4. Memiliki Akar yang Kuat
Pohon yang tumbuh di sekitar aliran air tersebut mendapat sumber kehidupan yang dibutuhkan. Begitu pula orang yang hidup di dalam firman Tuhan ini mempunyai akar yang kuat.
Kehidupan orang percaya bukanlah kehidupan yang bebas dari segala masalah. Orang benar pun bisa saja mengalami penderitaan, kehilangan, kekecewaan, serta tekanan.
Namun, ketika hidup ditebali oleh Tuhan, seseorang punya kekuatan untuk tetap bertahan.
Masalah bisa menggoyahkan hidup seseorang, tapi tidak mudah bagi masalah tersebut untuk menumpas iman yang ditebali oleh firman Tuhan.
5. Menghasilkan Buah pada Musimnya
Menurut Mazmur 1:3, pohon tersebut menjadi sumber produksi pada waktunya. Ini membuat jelas bahwa pertumbuhan spiritual seseorang membutuhkan proses.
Tidak selalu hasil tumbuh dalam sekejap. Musim tanam, musim pertumbuhan, serta musim produksi buah ada.
Juga demikian dalam hidup orang-orang percaya, Tuhan bekerja melalui proses ini. Kadang kala, kita merasa seperti tidak membuat kemajuan apa pun, namun yang sebenarnya adalah bahwa Tuhan membentuk karakter kita.
Jalan Orang Fasik Tidak Memiliki Dasar yang Kokoh
Setelah mendeskripsikan orang benar seperti sebatang pohon yang kuat, pemazmur kemudian mendeskripsikan orang fasik dengan cara yang jauh berbeda.
1. Seperti Sekam yang Ditiup oleh Angin
Mazmur 1:4:
Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. Pemazmur mendeskripsikan orang fasik seperti sekam yang ditabur oleh angin.
Seperti biasanya, sekam adalah hal yang ringan dan tidak memiliki akar. Ketika angin menyapa, sekam akan tersapu kemana-mana.
Pendeskripsian ini melambangkan hidup yang tidak memiliki landasan yang kuat. Orang yang menjalani hidupnya tanpa Tuhan memang tampak berhasil pada awalnya.
Orang tersebut mungkin memiliki kekayaan, kedudukan, popularitas, atau kewenangan. Karena apabila kehidupan bukan didasarkan pada kebenaran Allah, maka kehidupannya pun bisa sia-sia.
2. Keberhasilan Dunia Tidak Menentukan Akhir Kehidupan
Mazmur 1 mengingatkan bahwa kita tidak boleh menghakimi kehidupan berdasarkan apa yang dapat kita lihat saja. Bisnis bisa jadi sukses dijalankan oleh orang fasik.
Perjuangan hidup mungkin dijalani oleh orang benar. Namun, Allah melihat hasil akhir dari setiap perjalanan. Jadi, jangan iri dengan keberhasilan orang fasik, yang hidup dalam kejahatan.
Begitu juga, jangan merasa bahwa berada di jalur kebenaran Allah adalah suatu pengorbanan hanya karena kita mengalami sulit.
Allah Mengenal Jalan Orang Benar
Mazmur 1:6 adalah penutup yang luar biasa:
“Sebab ALLAH mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.”
Kata “mengenal” dalam konteks ini berarti bahwa Allah memperhatikan dan menjaga orang-orang yang berjalan dan hidup berdasarkan firman-Nya.
1. Tuhan Tidak Mengabaikan Orang Benar
Bisa jadi terdapat saat-saat ketika kita merasa Allah tidak melihat masalah-masalah yang kita hadapi. Kita berdoa, namun tidak mendapatkan jawabannya. Kita berusaha untuk bersikap baik, namun malah menghadapi kesulitan.
Mazmur 1 mengingatkan bahwa Allah mengetahui jalan-jalan orang yang baik.
Tidak ada tangis yang disembunyikan dari pada Allah dan tidak ada perjuangan iman yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada kesetiaan yang berakhir sia-sia di hadapan-Nya.
Oleh karena itu, teruslah berjalan dalam kebenaran sekalipun jalan tersebut tidak selalu mudah.
2. Jalan yang Dipilih Menentukan Tujuan
Mazmur 1 menyodorkan kepada kita dua jalan, yakni jalan orang fasik dan jalan orang benar yang berbasis dari firman Tuhan.
Namun jalan orang fasik yang menuju kebinasaan. Pesan tersebut sangat jelas, bahwa pilihan hidup kita adalah sesuatu yang penting.
Setiap hari, kita dihadapkan dengan pilihan. Kita bisa memilih untuk mendengarkan kata-kata dunia atau firman Tuhan. Kita bisa memilih untuk menjalani dosa atau kekudusan.
Oleh sebab itu, pilihan ada pada diri kita. Kita bisa memilih untuk percaya kepada Tuhan atau kepada kemampuan kita sendiri. Akhirnya, jalan yang kita pilihlah yang akan menentukan tujuan hidup kita.
Kesimpulan: Jalan Orang Fasik
Mazmur 1:1-6 memberikan pelajaran bahwa ada dua jalur hidup: jalan orang benar dan jalan orang fasik. Jalan orang benar adalah jalan yang berdasarkan firman Tuhan sebagai dasar hidup.
Orang tersebut tidak menuruti nasehat orang fasik, tidak mengenal dosa, dan tidak merasa nyaman berada di tengah-tengah perbuatan kejahatan. Justru sebaliknya, orang tersebut menyukai firman Tuhan dan memikirkannya baik pada pagi maupun malam hari.
Dalam Mazmur 1, orang semacam ini disimbolkan dengan sebuah pohon yang tumbuh di pinggir aliran air. Ia memiliki akar, berkembang, dan menghasilkan buah sesuai waktu.
Sementara itu, orang fasik disimbolkan dengan sekam yang dibawa angin. Hidupnya tidak memiliki dasar yang kuat dan akhirnya kebinasaan.
Inti dari pesan dalam Mazmur 1 sangat sederhana namun mendalam: pilih jalan yang benar dan berakar dalam firman Tuhan.
Jadi, jangan biarkan dunia menentukan jalur hidup kita. Jangan biarkan popularitas menentukan kebenaran, dan jangan biarkan kesulitan membuat kita meninggalkan Tuhan.
Tetaplah berakar dalam firman-Nya. Karena ketika hidup kita berakar dalam Tuhan, kita memiliki dasar yang kuat untuk menghadapi tiap musim hidup.






