Pengilhaman Alkitab didefinisikan sebagai berikut: Allah membimbing dan menggerakkan para penulis Kitab Suci melalui Roh Kudus, sehingga mereka menuliskan perkataan Tuhan dengan tepat dan sesuai kehendak-Nya. Meski begitu, kepribadian, cara bicara, dan pengalaman unik setiap penulis tetap ada dalam tulisan tersebut.
Dasar utama tentang pengilhaman Alkitab terdapat dalam 2 Timotius 3:16:
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”
Kitab Timotius menegaskan bahwa Alkitab sudah cukup. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sudah cukup untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan membawa seseorang kepada kebenaran.
Ada beberapa pertanyaan penting yang diajukan dan akan kita bahas. Pertama, apakah Alkitab di tulis oleh manusia atau Allah sendiri? Kedua, apakah Alkitab mengandung kesalahan, karena kemanusiaan penulis berperan?
Doktrin mengenai pengilhaman Alkitab
Pada umumnya, hampir semua teolog bersedia mengakui bahwa Alkitab diilhami oleh Allah sendiri. Meskipun demikian, pada abad pencerahan muncul berbagai teolog liberal yang berpandangan bahwa tidak semua isi Alkitab diilhami.
Akibatnya, Alkitab ditafsirkan ulang sesuai dengan kemauan mereka; otoritas Alkitab dihilangkan karena menjadi penyebab penafsiran Alkitab tidak objektif. Dengan demikian, mereka menafsirkan dan menentukan apakah kitab tersebut diilhami oleh Allah atau tidak.
Ada banyak kesalahan logika ketika menafsirkan Alkitab. Doktrin mengenai pengilhaman Alkitab bukanlah sesuatu yang dipaksakan oleh para teolog terhadap Alkitab, tetapi merupakan ajaran dari Alkitab itu sendiri. Misalnya dari keterangan para penulis, saksi-saksi dan penjelasan dari isi Alkitab itu sendiri.
Di bawah ini ada beberapa penjelasan yang relevan yang membicarakan tentang pengalaman Alkitab.
Penjelasan Alkitab mengenai pengilhaman
1. 2 Timotius 3:16
Dalam ayat ini Rasul Paulus menyatakan bahwa segala tulisan di dalam Alkitab diilhami oleh Allah. Perhatikan tiga hal yang ditegaskan dalam pernyataan ayat ini mengenai penghilangan Alkitab.
Pertama, Alkitab di ilhami oleh Allah
Semua tulisan dan keseluruhan isi Alkitab diilhami dan berfaedah. Ini adalah lingkup pengilhaman. Kata “tulisan” dalam bahasa Yunani adalah “Graphe”. Dalam seluruh perjanjian baru tertulis 50 kali dan selalu menunjuk kepada bagian Alkitab, meskipun dalam terjemahan Alkitab Indonesia sering diartikan sebagai Kitab Suci, nas dan juga tulisan.
Kadang-kadang juga menunjuk kepada seluruh Perjanjian Lama (Luk. 24:45) dan kadang-kadang menunjuk kepada kalimat tertentu dalam Perjanjian Baru (1 Tim.5:8) atau kalimat tertentu dalam Perjanjian Lama (Luk. 4:41). Ada kalanya juga menunjuk kepada sebagian tulisan dari Perjanjian Baru (2 Ptr.3:16).
Paulus juga menggabungkan kutipan Perjanjian Lama dan perjanjian baru dan menyebut keduanya sebagai Kitab Suci (1 Tim. 5:18). Kutipan Perjanjian Lama diambil dari Ulangan 25:4 dan Perjanjian Baru dari Lukas 10:7.
Dalam Perjanjian Baru dalam 2 Petrus 3:16 diterjemahkan dengan menggunakan kata “tulisan,” di mana Petrus mengakui dan menyebut tulisan-tulisan Paulus sebagai Kitab Suci. Hal ini menunjukkan bahwa Wibawa dari Alkitab sudah diakui dan diterima sejak awal.
Namun karena 66 Alkitab sudah disahkan dan diterima sebagai kanon Alkitab, maka 2 Timotius 3:16 menyangkut keseluruhan Alkitab baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Semua tulisan dalam Alkitab diilhami oleh Allah.
Kedua, segenap Alkitab dinafaskan Allah
Ini menyatakan cara dari pengilhaman itu. Bentuk pasif, artinya Alkitab adalah hasil dari nafas Allah. Jikalau sebaliknya bentuknya aktif, maka akan berarti Alkitab berbicara mengenai Allah.
Dalam bahasa Yunani tertulis θεόπνευστος (theópneustos), kata ini terdiri dari theós yang berarti Allah dan pnéō yang berarti bernafas atau menghembuskan. Jadi, kata θεόπνευστος dapat diartikan sebagai “dihembuskan oleh Allah” atau “berasal dari nafas Allah.”
Ketiga, segenap Alkitab bermanfaat
Ini menyatakan tujuan dari pengilhaman Alkitab. Alkitab berguna untuk mengajar, menegur, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan melatih orang hidup dalam kebenaran.
Hal ini bertujuan supaya orang percaya siap, cakap atau mampu dan dilengkapi dengan sempurna dalam setiap aspek kehidupannya. Alkitab bukan untuk ditaruh di dalam Museum untuk dikagumi, tetapi digunakan untuk mengajar dan menuntun orang-orang percaya supaya hidup dalam kebenaran dan terang Allah.
2. Kitab 2 Petrus 1:21
Ayat Ini memberitahukan dengan jelas bagaimana Allah memakai penulis manusiawi untuk menghasilkan Alkitab. Roh Kudus mendorong dan memimpin mereka.
Penggunaan kata kerja yang sama dalam kisah para rasul 27: 15 menerangi pemikiran kita mengenai apa yang dimaksud dengan, “mendorong atau menggerakkan.”
Demikianlah Roh Kudus menggerakkan, mendorong dan memimpin para penulis sehingga mereka menuliskan isi Alkitab.
2 Petrus 1:21 memiliki penekanan yang lain. Ayat ini menyatakan bahwa kemauan para penulis tidak langsung mengarahkan penulisan Alkitab. Kata kerja yang sama “didorong” atau “digerakkan” muncul pada bagian akhir ayat itu. Maka nubuat tidak dihasilkan oleh kehendak manusia.
Pernyataan ini mengandung penjelasan penting mengenai soal ketidakkeliruan Alkitab. Kemauan manusia, termasuk kemauan untuk berbuat salah tidak menghasilkan Alkitab; tetapi Roh Kudus yang tak pernah keliru itulah yang menghasilkan Alkitab.
Memang para penulis itu aktif dalam penulisan; apa yang mereka tuliskan bukan oleh kemauannya sendiri yang mungkin bisa salah, tetapi oleh Roh Kudus yang adalah benar dan tak bisa salah.
B.B Warfield menjelaskan bahwa manusia bukan berbicara berdasarkan dirinya sendiri tetapi dari Allah; mereka seperti didorong dan mengikuti kehendak Roh Kudus. Jadi, kata-kata dan tulisan itu bukan berasal dari diri mereka tetapi dari Allah.
Kesimpulan dari 2 Petrus 12:1 menyatakan bahwa Allah memakai manusia, mendorong dan memimpin mereka sehingga menuliskan isi Alkitab dengan benar.
Mereka tidak menuliskan berdasarkan kemauan diri sendiri tetapi mereka dipimpin oleh Roh Kudus, sehingga doktrin mengenai pengilhaman Alkitab semakin jelas. Oleh karena itu, Alkitab menjadi sumber pengetahuan, sumber pengajaran, sumber teologi dan menjadi dasar bagi kehidupan orang percaya.
3. 1 Korintus 2:13
Paulus menyatakan bahwa wahyu Allah datang kepada kita dalam kata-kata. Ini menjawab perbantahan dari beberapa orang bahwa pengilhaman hanya berhubungan dengan pikiran yang Allah ingin kita mengetahuinya, tetapi tidak menyangkut kata-kata bagaimana pikiran itu dinyatakan.
Paulus mengatakan dan menegaskan bahwa pesan dari Allah datang melalui kata-kata dalam teks. Fakta bahwa Paulus mengatakan bahwa ia berbicara dalam kata-kata tidak berarti ia tidak menunjuk kepada tulisannya.
Perhatikan bahwa Petrus mengatakan bahwa Paulus “berkata” dalam semua suratnya (2 Ptr. 3:16). Maka berbicara dalam kata-kata tentunya dapat berarti menunjuk kepada surat-surat kiriman Paulus.
Jadi, dalam 1 Korintus 2:13 mengajarkan bahwa kata-kata yang dipakai dalam penulisan Alkitab diilhami oleh Roh Kudus.
Kesimpulan: Pengilhaman Alkitab
Jadi, dapat disimpulkan bahwa para penulislah yang menuliskan naskahnya, tetapi Alkitab sendiri berasal dari tindakan Allah yang mengeluarkannya. 2 Timotius 3: 16 mengajarkan bahwa semua Alkitab datang dari Allah untuk menunjukkan kepada umatnya bagaimana mereka harus hidup.
Doktrin mengenai pengilhaman Alkitab menunjukkan bahwa Allah kadang-kadang mewahyukan secara adikodrati dan langsung; pada kalanya Dia mengizinkan para penulis untuk menyusun dan menulis alkitab melalui kemampuannya dalam bimbingan Roh Kudus.
Jadi, secara sederhana pengilhaman Alkitab berarti:
- Allah adalah sumber utama dari penulisan Alkitab
- Para penulis dipakai Allah untuk menyampaikan maksud dan kehendak-Nya
- Alkitab memiliki otoritas ilahi karena berasal dari Allah sendiri
- Roh Kudus memimpin para penulis sehingga menulis firman yang ditulis sesuai dengan maksud Allah.
Demikianlah uraian dan penjelasan tentang pengalaman Alkitab, semoga artikel ini dapat memberikan manfaat dan wawasan yang baru kepada seluruh umat Tuhan, Tuhan Yesus memberkati.
Pada dasarnya, manusia memang berdosa dan manusia membutuhkan keselamatan. Namun, karena kasih anugerah Allah melalui Kristus mereka yang percaya diselamatkan. Demikian para rasul dan orang-orang pilihan yang menulis Alkitab, mereka di dilayakan dan memperoleh kasih karunia tu.