Saat hidup terasa berat, ingatlah akan Firman Tuhan dari Matius 11:28 yang mengatakan: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”.
Tidak ada orang yang ingin hidupnya menderita atau berada dalam masa-masa sulit. Faktanya, penderitaan dan kesulitan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup setiap orang tanpa terkecuali. Bahkan orang benar dan salehpun bisa berada pada masa-masa sulit.
Saya dapat mengatakan bahwa semua orang pasti pernah mengalami kesulitan, meskipun dia memiliki uang. Mengapa demikian? Kesulitan menjadi bagian penting dalam hidup, supaya kita dapat terus bergantung dan mempercayakan hidup ini kepada Tuhan.
Tanpa penderitaan dan kesulitan, maka kita tidak akan tahu tentang iman dan hidup yang bergantung kepada Allah. Bagaimana dengan hidup kita hari ini? Apakah ketika menghadapi masa-masa sulit kita mempercayakan hidup ini kepada Allah? Atau sebaliknya, kita justru mengandalkan kekuatan sendiri.
Saat Hidup Terasa Berat: Matius 11:28
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
Berbicara mengenai kehidupan yang berat, saya teringat akan seorang pendaki gunung yang hampir menyerah. Ia membawa tas yang berat, dan menyusuri jalan yang terjal berjam-jam. Setelah melewati 4 jam, kakinya dan lututnya mulai terasa sakit, tubuhnya mulai lemas dan ia merasa sangat lelah sekali.
Pendaki itu sudah tidak kuat lagi, dan memutuskan untuk berhenti beristirahat dan ingin kembali turun. Lalu tiba-tiba ada seorang pemandu mendekatinya, dengan mengatakan: “serahkan sebagian barang bawaanmu kepadaku, aku bisa membawanya dengan aman.”
Awalnya pendaki itu merasa tidak enak dan segan, namun apa boleh buat karena merasa sangat lelah ia membagi bebannya dengan seorang pemandu tersebut. Setelah membagi bebannya, perjalanannya pun terasa lebih ringan, langkahnya bisa stabil walaupun ia merasa kelelahan.
Setalah melewati 7 jam perjalanan yang melelahkan, akhirnya ia sampai di puncak dengan puas dan bahagia. Ia menyadari, tanpa seorang pemandu yang menolongnya, ia tidak mungkin bisa sampai kepuncak gunung itu.
Ketika saya dan saudara menjalani hidup, maka kita sering berada pada posisi pendaki itu. Kita merasa lelah dan putus asa, rasanya sudah tidak kuat lagi menjalani kehidupan ini. Mengapa hidup ini terasa berat? Jawabannya karena kita menanggung beban itu sendirian.
Firman itu hari mengajarkan supaya kita datang kepada Yesus dan berbagai beban dengan-Nya. Ajakan “Marilah kepada-Ku” mengajarkan supaya kita menyerahkan dan mempercayakan semua beban itu kepada-Nya, supaya Dia yang bertindak. Ada hal-hal yang memang berada di luar dari kendali dan kemampuan kita.
Oleh sebab itu, dengan menyerahkan hal-hal yang berada di laur kendali dan kemampuan kita kepada TUHAN, maka kita akan merasa lega. Kerjakan saja yang menjadi bagian kita, selebihnya serahkan kepada TUHAN dan birlah Dia yang bertindak.
Penafsiran Matius 11:28
Saat hidup terasa berat, kita tidak bisa melihat dan menatap masa depan dengan baik. Oleh karena itu, kita diajarkan untuk datang dan mempercayakan semua pergumulan dan kehidupan ini kepada Allah yang hidup. Namun, kita juga perlu memahami, pesan dan konteks dari Matius 11:28.
Konteks Matius 11:28 adalah percakapan Tuhan Yesus dengan orang-orang Yahudi. Ayat ini tidaklah berdiri sendiri, karena ayat ini muncul setelah Tuhan Yesus mengecam beberapa kota yang menolaknya. Misalnya kota Khorazim, Betsaida, dan juga Kapernaum (Matius 11:20-24).
Selanjutnya, Tuhan Yesus memuji “Bapa” karena menyatakan kebenaran kepada orang-orang kecil dan terpinggirkan dan bukan kepada orang pandai dan bijaksana (Matius 25-27).
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”.
Teks di atas memperlihatkan bahwa “letih lesu dan berbeban berat” maknanya bukan hanya tentang penderitaan hidup seperti masalah uang, makanan atau minuman saja.
Akan tetapi, beban ini juga mencakup beban dosa dan keselamatan melalui hukum Taurat. Belum lagi beban-beban yang diberikan oleh para pemimpin agama (Ahli Taurat dan orang Farisi) kepada umat pada waktu. Berbagai aturan yang diterapkan kepada umat, ini semakin menambah beban hidup mereka pada waktu.
Selanjutnya kalimat “AKu akan memberi kelegaan kepadamu.” Kata “kelegaan” berasal dari kata Yunani, kata ini dapat berarti ketenangan, beristirahat atau juga kelegaan. Di sini, Tuhan Yesus sedang menawarkan kelegaan bagi jiwa kita, yakni relasi atau hubungan yang benar bersama Allah.
Artinya, keselamatan adalah anugerah semata, dan bukan merupakan hasil dari menaati hukum Taurat. Karena itu, ayat 29 mengatakan “Pikullah kuk yang kupasang, dan belajarlah kepada-Ku…” Tuhan Yesus tidak berkata menghilangkan kuk, tetapi mengganti kuk yang berat dengan kuk yang lebih ringan.
Orang-orang yang lelah dengan berbagai aturan agama, lelah karena dosa dan lelah karena persoalan hidup di undang untuk datang kepada Yesus. Dia akan mengangkat beban itu, dan menggantinya dengan kuk yang lebih ringan. Membangun persekutuan yang benar di dalam-Nya akan memberikan kedamaian dan juga kelegaan.
Kesimpulan: Saat Hidup Terasa Berat
Matius 11:28 adalah ajakan Tuhan kepada orang-orang percaya yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya. Konteksnya, ia sedang berbicara dengan orang-orang Yahudi yang lelah dengan dosa dan aturan agama yang membebani.
Belum lagi aturan yang dibuat ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang dibebankan kepada umat, dan ditambah masalah ekonomi, ini adalah kuk berat.
Meskipun demikian, ajakan Tuhan Yesus memiliki prinsip yang sama bagi semua orang percaya di seluruh bumi. Mereka yang mau datang dan menyerahkan bebannya kepada Yesus, maka akan mendapatkan kelegaan jiwa.
Kita tidak lagi dibebani dengan aturan agama yang rumit, karena keselamatan adalah anugerah dari Allah dan kita hanya di minta untuk percaya kepada-Nya. Di dalam persekutuan dengan-Nya, kita akan mendapatkan ketenangan, kelegaan dan juga kedamaian.
Ingatlah, saat hidup terasa berat, datanglah kepada Yesus. Baca juga 5 ayat Alkitab mengatasi stres.


